Minggu, 11 April 2010

MA'RIFATULLOH

Apa itu Makrifat / Makrifatullah? Dan bagaimana usaha kita untuk mencapainya? Apakah thariqah adalah sarana untuk meraih Makrifatullah ???? Makasih sebelum dan sesudahnya. Pertanyaan ini disampaikan pada tanggal 25 Januari 2007 di sebuah forum diskusi sufi di internet. Walau pertanyaan ini sering mendapat jawaban yang sama dari berbagai kiyai dan ustadz maupun mursyid tarekat, namun penulis mencoba mengajak pembaca untuk sejenak merenungi dan mengkaji ulang tentang esensi Makrifatullah itu.
Secara umum, Makrifatullah artinya Mengenal Allah. Dan kata-kata makrifat itu sendiri dalam bahasa arab mengandung makna ihathah yang artinya mengetahui secara penuh, maka makrifatullah dapat diartikan dengan mengenal atau mengetahui identitas zat Allah secara keseluruhan. Namun bila diartikan dengan sekedar mengenal eksistensi Allah maka siapapun dari kita pasti mampu mengetahui bahkan meyakini keberadaan-Nya, baik melalui berbagai kajian dan penelitian. Lalu bagaimana bila mengenal / mengetahui identitas Zat Allah dengan sempurna? Inilah yang mustahil !! Walau melalui suluk dan banyak berdzikir dalam tarekat. Karena Rasulullah Saw. saja tidak mampu memuji Allah karena tidak mampu mengenal / mengetahui-Nya, sebab mampu memuji adalah tanda telah mengetahui. Beliau bersabda :
" لا أحصي ثناء عليك كما أثنيت على نفسك "
Jika Rasulullah Saw. yang menjadi makhluk termulia dan teragung di sisi Allah tidak mampu memuji Allah... Apakah kita yang sehina dan sekotor ini mengaku-ngaku telah Makrifatullah ?!?!??!?!?!?!?!???
Allah Swt. berfirman :
" ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء "
Kita tidak akan mampu mengetahui sedikit dari sebagian ilmu-ilmu Allah melainkan apa yang Ia kehendaki saja... Jikalau ilmu Allah masih banyak yang tidak kita ketahui... boro-boro ngetahuin zat-Nya ?!?!?!?

Kesimpulannya: Makrifatullah adalah suatu hal yang 100% mustahil... siapapun dari para nabi, rasul dan wali tidak ada yang mampu mencapai Makrifatullah... dengan cara apapun, baik dengan mengikuti tarekat sufi ataupun yang lainnya!

Makanya para wali Allah dijuluki dengan al-Arif Billah, bukan dengan al-Arif Lillah... karena Makrifat Billah masih mungkin, yang artinya mengetahui dengan izin Allah. Kalau Makrifatullah artinya mengetahui Allah itu sendiri, nah itu yang mustahil !!!

Islam hanya memberikan tiga martabat saja; Islam, Iman dan Ihsan... Syari'at, Tarekat dan Hakekat. Kenapa yang keempat (martabat Makrifat) didatangkan ??? dan dari mana asal-usulnya? mau menyaingi pemberian Allah ya ??? Sekali lagi, makrifatullah merupakan suatu hal yang mustahil terjadi !! Bagaimana bisa mengenal / mengetahui identitas zat Allah yang maha suci sementara para nabi, rasul dan para wali tidak ada satupun yang menjangkaunya !! Rasulullah saja tidak mampu memuji-Nya sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits di atas, apakah kita berani mengaku-ngaku kenal Allah ?!? tau Allah ?!?
Oleh karena itu kita mengucapkan Allahu Akbar. Yang artinya bukan: Allah maha besar dari segala sesuatu (Allahu Akbar min kulli syai’) karena Allah bukanlah sesuatu (syai’) sehingga ukuran-Nya dibanding-bandingkan dengan ukuran sesuatu yang lain. Allah tidak berukuran besar atau panjang. Allah tak layak dibanding-bandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya. Makna Allahu akbar adalah: Allah maha besar untuk diketahui (Allahu Akbar min an yu’raf). Allah itu muthlaq dan tidak muqayyad oleh ruang, waktu, ukuran, bentuk maupun berat. Allah maha suci dari itu semua. Allah tidak bisa diketahui oleh siapapun. Allah maha besar untuk dideteksi atau diukur atau dikenal secara sempurna. Apapun yang terlintas di benak kita tentang-Nya maka Dia maha besar dan maha suci dari itu semua “Subhana Rabbika Rabbil-izzati amma yashifun”. Syekh Abu Yazid al-Busthami Ra. pernah ditanya: Apakah Allahu Akbar berarti Allah maha besar dari yang selain-Nya (dari segala sesuatu / dari segala-galanya)? Beliau menjawab: Tidak ada sesuatupun bersama-Nya sehingga Ia menjadi lebih besar darinya. Beliau ditanya kembali: Lalu apa maknanya? Beliau menjawab: Allahu Akbar artinya Allah maha besar untuk dikias dengan manusia atau dijadikan sebagai alat mengkias atau dijangkau oleh panca indra (Akbar min an yuqasa binnas, aw yadkhula tahtal-qiyas aw tudrikahul-hawas).

FATWA ALI JUM'AH TENTANG AIR KENCING NABI

Seorang mufti Mesir yang disegani umat... dan guru besar ushul fiqh di al-Azhar.. Dr. Ali Jum'ah al-Syafi'i.. baru-baru ini mengeluarkan fatwanya yang cukup menghebohkan dunia... "Minum air kencing Rasul Saw. hukumnya halal"... !!! Fatwa ini mendapat banyak kritikan dari berbagai lembaga agama, termasuk al-Azhar sendiri… Semua meminta beliau untuk meralat kembali fatwa tersebut... melalui banyak alasan.. di antaranya: Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang para sahabat yang sempat meminum air kencing Rasul Saw. adalah merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka.. bukan karena disengaja.. Alasan lain karena fatwa tersebut akan memberikan kesempatan kepada musuh-musuh islam untuk menghina dan mencaci agama islam serta Rasulnya… menganggap bodoh dan kolot umat islam… bukan hanya itu saja, tapi juga jorok dan kotor !! Bukankah mereka (musuh-musuh islam) telah mencaci-maki dan menghina Nabi dengan berbagai lukisan dan karikatur? lalu bagaimana lagi bentuk lukisan tersebut bila mereka mendengarkan fatwa Dr. Ali Jum'ah terbaru ini ?? Ada apa gerangan dengan sang mufti? Salahkah dia?

Untuk mengomentari persoalan yang cukup sensitif ini, kita sebagai umat islam yang moderat (ummatan wasatha) harus tahu lebih dahulu bahwasanya yang disebut fatwa adalah yang mengenai suatu perbuatan yang bisa dilakukan dan ditinggalkan.. apakah boleh atau tidak? apakah dilakukan atau ditinggalkan? itu baru namanya fatwa. Pada zaman ini tidak ada lagi air kencing Nabi.. lalu buat apa fatwa itu dikeluarkan? boleh diminum ataupun tidak.. mana dulu air kencingnya ?!?!?!??! Ini bukanlah fatwa, melainkan realita… fakta… peristiwa nyata… yang sudah berlalu lama… dan sebatas untuk diceritakan saja… bukan untuk difatwakan halal-haramnya !! menceritakannya pun amat tidak bijak bila untuk siapa saja !! karena :

ليس كل ما يعرف يقال .. وليس كل ما يقال جاء أوانه .. وليس كل ما جاء أوانه حضر أهله

Tidak semua yang diketahui baik disampaikan… Tidak semua yang baik disampaikan tiba saatnya… Dan tidak semua yang tiba saatnya hadir ahlinya !! Artinya: seorang alim da'i yang bijak ialah yang tidak menyampaikan semua ilmunya kepada awam dan sembarang orang.. ia harus melihat lebih dahulu sudah tiba saatnya atau belum.. ia pun harus melihat yang hadir berhak menerimanya atau belum berhak !!

Kita semua pernah mendengarkan atau membaca sebuah petuah masyhur yang berbunyi :

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

Sungguh dusta seorang yang menyampaikan semua yang ia ketahui !!

Apabila seseorang memberikan suatu hikmah kepada bukan ahlinya maka ia telah menzalimi hikmah itu sendiri… dan apabila ia menyembunyikannya dari para ahlinya maka ia telah menzalimi mereka… Seorang yang hakim (bijak) ialah yang tidak memberikan hikmah itu kecuali kepada ahilnya saja dan pada waktu yang setepat-tepatnya.

Imam Ali Ra. pernah mengatakan: "Apabila aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Rasul Saw. maka kalian akan mengatakan bahwa aku telah berdusta". Saidina Abu Hurairah Ra. juga pernah berkata: "Aku telah menerima dua bagian ilmu dari Rasul Saw. Bagian yang pertama aku sampaikan, adapun bagian yang kedua apabila aku sampaikan maka leherku akan disembelih orang".

Rasul Saw. pernah bersabda: "Kami para nabi mendapatkan perintah untuk mengajari umat sesuai hajat dan kemampuan akal mereka… bukan sesuai akal dan kadar pengetahuan kami". Seorang yang alim ketika mengajar harus menguasai ilmunya lebih dahulu sekaligus mengetahui kadar murid-muidnya… karena tidak tepat bila anak kecil diajari ilmu aljabar sebelum diajari ilmu membaca dan menulis !!!

Ketika menyebut kata kekuatan.. identik difahami dengan otot besi dan urat kawat.. padahal ada kekuatan lain seperti menahan emosi dan kekuatan iman… Ketika menyebut kata rizki.. identik diartikan harta dan uang.. padahal angin, ilmu, kesehatan.. juga merupakan rizki… Ketika menyebut kata cinta.. identik dimaknai dengan hubungan antara dua kekasih yang saling menyayangi.. dan melupakan cinta-cinta lainnya.. cinta Allah dan Rasul-Nya… Kesalahpahaman terhadap makna kalimat telah membuat salah penafsiran terhadap apa yang disampaikan para ulama'.. dimana seorang ulama' juga di sisi tertentu harus meyakini ajarannya akan sampai dengan tepat ke para muridnya sebelum ia menyampaikannya. Rasul pernah bersabda: "Tidaklah seorang menyampaikan suatu ilmu kepada kaumnya yang tidak mampu mencernanya melainkan ilmu itu akan menjadi fitnah bagi mereka".

Apabila ilmu yang benar disampaikan bukan pada waktunya dan bukan kepada ahlinya.. di situlah muncul fitnah besar yang menyala-nyala.. Karena tidak semua orang mampu memahami tentang permata dan berlian.. Tentunya berbicara tentang sosok mulia seperti Rasulullah Saw. jauh lebih bernilai dari pada intan dan permata !! Pantaskah disampaikan ke semua orang ?!?

Antara guru dan murid harus sama-sama punya etika.. karena etika seorang guru yang alim sudah disebutkan di atas, maka etika seorang murid adalah mencerna dengan baik dan memahami dengan kepala yang sejuk.. bukan dengan emosi dan egoisme yang berlebihan.. Apabila mereka keberatan dengan bolehnya meminum air kencing Nabi.. lalu mengapa mereka tidak keberatan dengan bolehnya meminum air kencing unta untuk pengobatan ?!? Apakah kencing binatang lebih mulia dari Nabi ?!?!?

Segala sesuatu ada ahlinya.. ada spesialisnya… Ketika radio pertama kali ditemukan, ada yang mengatakan: "Di dalamnya ada jin"… Ketika TV ditemukan, ada yang mengatakan: "Ini jinnya !!"… Kejahilan bukanlah aib.. melainkan yang aib adalah menghina dan memaki suatu hal yang tidak diketahui maksudnya, tidak difahami esensinya dan tidak dikuasai ilmunya.

Ketika seseorang yang buta matanya tidak dapat melihat sinar matahari.. tidaklah berarti mataharinya tidak ada.. permasalahannya bukan terletak pada matahari.. melainkan pada mata orang buta itu sendiri !!

Para pembaca yang budiman.. sang mufti sebetulnya tidak keliru dalam keyakinannya tentang status air kencing Nabi Saw... hanya saja.. sayang seribu kali sayang.. beliau tidak memperhatikan waktu dan orang-orang yang mendengarkannya !!

Seorang waliyullah mengatakan :

على رأس هذا الكون نعل محمد # علت فجميع الكون تحت ظلاله

على الطور موسى نودي إخلع وأحمد # فوق العرش لم يؤذن بخلع نعاله

Dia adalah Saidina Muhammad,
Terompah miliknya di atas jagad raya,
Bayangan keagungannnya mengepung alam semesta,
Sedangkan Nabi Musa di atas bukit sinai tak boleh bersendal,
Sementara Nabi Muhammad di atas arsyi-pun ia masih berterompah !!

Berbicara tentang keistimewaan Rasulullah Saw. tidak akan pernah dijangkau oleh siapapun dan buku manapun… bukan hanya keistimewaan beliau secara batin dan rohani saja.. secara zahir dan jasmani-pun jangan coba-coba !! Dengan demikian maka orang yang mengatakan bahwa Rasul adalah manusia biasa, keimanannya masih sangat dipertanyakan !! Beliau memang manusia.. namun sungguh bukan manusia biasa.. beliau adalah manusia sempurna.. manusia luar biasa yang aslinya cahaya !! Allah berfirman: "Telah datang kepada kalian cahaya dari Allah yaitu Baginda Rasul Saw."

Okelah itu air kencing.. tapi air kencing siapa dulu ?!? Okelah itu kencing manusia.. tapi apakah Rasulullah Saw. manusia biasa ?!? seperti kita ?!? Bukankah beliau tidak mempunyai bayangan ?!? Bukankah keringat beliau lebih wangi dari minyak kasturi ?!? Bukankah air ludah beliau dapat mengembalikan mata yang telah terpisah dari kepala ?!? Bukankah darah beliau menjadi obat bagi segala jenis penyakit ?!? Bukankah air sisa wudu' beliau direbut banyak sahabat ?!? Bukankah dari dan untuk beliau semua tercipta ?!? Bukankah semua mala'ikat menjadi pelayan setia ?!? Bukankah kepada beliau semua nabi dan rasul tundukkan kepala ?!? Bukankah Madinah beliau tak mampu dimasuki Dajjal durjana ?!? Bukankah beliau telah menembus langit-langit sampai ke luar angkasa bahkan menembus arsyi dan sidratul-muntaha dalam satu malam tanpa rocket, tanpa bantuan oksigen atau yang lainnya ?!? Lalu masihkah kita mengatakan beliau manusia biasa ?!? Dan masihkah kita mengkias dan menyamakan air kencing beliau dengan air kencing kita ?!?!?!??!?! ……………… ............ cukup ……….. ............ wallahu a'lam

BALA, TAWAKAL

Setiap manusia tidak akan pernah lepas dari bala bencana, siapapun dia; nabi, wali, orang muslim biasa, orang shalih maupun orang kafir. Hanya saja bala’ itu sendiri oleh orang-orang mulia dibagi menjadi empat macam: Yang pertama: Bala’ Intiqam, yaitu bala’ yang turun untuk tujuan memusnahkan atau mengakhiri. Bala’ ini dikhususkan untuk mereka yang kafir dan ingkar. Allah berfirman “Fantaqamna minhum fanzur kaifa kana aqibatul-mukazzibin”.
Bala’ Intiqam ini bila telah turun kepada orang-orang kafir, tidak berarti mereka bebas dari siksaan di hari akhirat, karena Allah berfirman: “Lahum fiddunya khizyun wa lahum fil-akhirati azabun azim”.
Bala’ yang kedua disebut dengan Bala’ Mahwu Sayyi’ah; yang bertujuan untuk menghapus dosa. Bala’ ini turun kepada mereka orang-orang islam pada umumnya yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Rasulullah Saw. bersabda: “Humma lailah kaffarah sanah”; Demam satu malam menghapus dosa satu tahun.
Bala’ yang ketiga disebut dengan Bala’ Raf’u Darajah. Bala’ ini untuk mereka orang-orang shalih dan orang-orang khawas bukan untuk memusnahkan mereka dan bukan juga untuk menghapus dosa mereka, sebab mereka tak berdosa sebagaimana halnya orang-orang awam. Melainkan mereka mendapat bala’ semata-mata agar derajat tinggi mereka mendapat peningkatan dari Allah Swt. sebagaimana yang menimpa kepada Saidina Binyamin As. sebagaimana firman Allah Swt.: “Kadzalika kidna liyusufa ma kana liya’khudza akhahu fi dinil-malik illa an yasya’allahu narfa’u darajati man nasya’ wa fauqa kulli dzi ilmin alim”.
Yang terakhir adalah Bala’ Mahabbah yang semata-mata untuk membkutikan cinta Allah kepada hamba-Nya. Bala’ ini khusus untuk para rasul, para nabi dan para wali. Bala’ yang menimpa justru sebagai tanda cinta. Rasul bersabda: “Idza Ahabballahu abdan ibtalahu”.
Dengan demikian maka siapapun dia, tidak akan lepas dari yang namanya bala’, hanya saja jenis bala’nya yang bagaimana ?!? semoga Allah Swt. menjadikan bala’ yang menimpa kita adalah untuk mengahpus dosa kita, bukan untuk memusnahkan kita, Amin!
Dalam menghadapi musibah, kita perlu menanam sifat sabar dalam hati kita, yang mana sabar itu sendiri ada tiga macam: Yang pertama: Sabar yang pahit yang disertai perasaan kecewa dan sedih namun tetap sabar dan tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Dalam al-Qur’an: “Wabasysyir ashshabirina alladzina idza ashabathum mushibatun qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Sabar yang kedua tidak sepahit sabar yang pertama, bahkan tidak kecewa dan dengan senang hati menerima taqdir-Nya, beda halnya dengan sabar yang pertama; sabar yang disertai berat hati dan duka. Allah berfirman: “Alladzina qala lahum annasu innannasa qad jama’u lakum fakhsyauhum fazadahum imana wa qalu hasbunallahu wa ni’mal-wakil fanqalabu bini’matin minallahi wa fadhlin lam yamsashum su’un wattaba’u ridhwanallahi wallahu dzu fadhlin azim”.
Sabar yang ketiga adalah sabarnya mereka yang justru bahagia dengan taqdir Allah sepahit apapun taqdir itu, mereka tetap bahagia dan bersuka cita karena mereka telah memilih Allah dari pada yang selain-Nya, sehingga mereka yakin kebaikan justru terdapat dalam musibah itu sendiri karena di sebalik itu pasti ada yang lebih baik lagi. Allah berfirman: “Radhiyallahu anhum wa radhu anhu dzalika liman khasyiya rabbah”. Saidina Abu Bakr Ra. berkata bahwa seseorang akan mendapat ridho Allah apabila ia sendiri telah meridhoi-Nya, dalam artian meridhoi qada’ dan qadar-Nya, dan tanda seseorang ridho kepada Allah adalah apabila ia bahagia dengan suatu musibah sebagaimana ia bahagia dengan suatu nikmat, maka ia telah ridho kepada Allah, Swt.
Hanya saja Allah Swt. senantiasa menuntut kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras demi meraih cita-cita. Jangan hanya mengharap pemberian-Nya tanpa mau berikhtiar dan berusaha, sebab tawakal adalah kepasrahan yang diawali dengan usaha yang maximal. Bila tidak berusaha dan hanya menrima hasil maka itu disebut Tawakul dan bukan Tawakkul.
Tawakal yang tepat dan benar adalah yang diawali dengan usaha yang maximal, dan oleh orang-orang mulia dibagi juga menjadi tiga bagian: Tawakal yang pertama adalah Berusaha lalu menerima apapun hasilnya. Yang kedua: Berusaha lalu meridhoi apapun hasilnya. Sedangkan yang ketiga dan yang tertinggi adalah: Berusaha dan tetap bahagia apapun hasilnya.
Adapun bila tidak berusaha dan hanya menunggu hasil maka disebut Tawakul dan inilah yang dicela oleh Allah Swt. karena Ia berfirman: “Wa qul i’malu fasayarallahu amalakum wa rasuluhu wal-mu’minun”. Pasrah kepada Allah tanpa didahului usaha yang maximal adalah melanggar fithrah itu sendiri! (…bersambung…)

NASYID YANG DIIRINGI MUSIK TIDAK HARAM

PESTA ASYURO

Hari Asyura’ (10 Muharram) adalah hari yang sangat bersejarah… Setiap umat berbahagia pada hari itu… Allah Swt. telah menyelamatkan Nabi Nuh As. dari kaumnya dan berhasil menyeberangi lautan pada hari Asyura’… Nabi Ibrahim As. selamat dari panasnya api pada hari Asyura’… Nabi Musa As. membelah laut menjadi dua dan menyeberanginya pada hari Asyura’… Nabi Isa As. dinaikkan dari muka bumi pada hari Asyura’… Nabi Yunus As. dikeluarkan dari perut paus pada hari Asyura’… Nabi Ayyub As. sembuh dari penyakitnya dan kembali kaya dan berketurunan banyak pada hari Asyura’… Sungguh hari Asyura’ adalah hari kegemilangan… hari kebahagiaan… Setiap nabi telah menemukan kegemilangan hari Asyura’… Setiap umat yang mengikuti para nabi itu turut bahagia dan berpesta pada hari Asyura’ merayakan kegemilangan nabi-nabi mereka… Hari Asyura’ adalah hari yang paling menyenangkan bagi mereka semua.
Namun… Bagaimana dengan Nabi Muhammad Saw. dan umatnya ?? Dimanakah bagian beliau dari kegemilangan hari Asyura’ itu? Kelahiran beliau bukan pada hari Asyura’… Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan pula pada hari Asyura’… Fathu Makkah bukan juga pada hari Asyura’… Kemenangan kaum muslimin dalam perang melawan kuffar tidak pernah juga terjadi pada hari Asyura’… Lalu… Apakah setiap umat bahagia pada hari Asyura’ kecuali umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Imam al-Husain Ra. cucu kesayangan Rasulullah Saw. meninggalkan dunia ini secara syahid tepat pada hari Asyura’… Namun apakah kematian beliau merupakan peristiwa yang patut dirayakan dan dibahagiakan? ditambah dengan terpisahnya kepala dari jasad dalam suasana perang mendidih dan adu golok yang super brutal… peristiwa apa itu? seperti itukah yang terjadi pada Asyura’-nya umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Sebuah golongan yang cukup terkenal, yaitu golongan Syi’ah (di Iran, Libanon dan lainnya), setiap hari Asyura’ mengadakan upacara besar-besaran mempringati wafatnya Imam al-Husain Ra…. pada hari itu mereka melukai diri meraka sendiri dengan pedang tajam secara masal… darah mereka dialirkan dari kepala dan tubuh sambil teriak dan menangis… pemuda-pemuda dan anak-anak kecil pun ikut membuat banjir darah di tengah panasnya matahari… sedih mengenang peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ di Karbala’… Imam yang sangat mereka cintai itu disemblih secara brutal dan tak ada satupun yang menolong ataupun menyelamatkan !!
Pertanyaan yang akan timbul: Mengapa semua umat berbahagia pada hari Asyura’ sementara umat Nabi Muhammad Saw. bersedih dan melukai diri sendiri sambil bersorak ?!?
Syi’ah menyatakan cintanya yang sangat mendalam kepada Saidina al-Husain Ra. Tapi apakah golongan yang lain tidak mencintainya juga? Cinta Ahlul-Bait adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan… Imam Syafi’i Ra. berkata :
يا آل بيت رسول الله حبكم # فرض من الله في القرآن أنزله
يكفيكم من عظيم الفخر أنكم # من لم يصل عليكم لا صلاة له
Demikianlah ketegasan beliau dalam menyatakan kewajiban cinta Ahlul-Bait… dalam bait yang lain beliau juga mengungkapkan :
لو كان حبي آل أحمد بدعة # فإني بتلك البدعة مكتف
Dalam bait yang lain :
لو كان حبي آل محمد رفضا # فليشهد الثقلان أني رافض
Namun cinta Imam Syafi’i Ra. yang setinggi itu kepada Ahlul-Bait tidak pernah mendorongnya untuk besedih atau bersorak melukai diri sendiri dan merobek baju tiap hari Asyura’… Lalu ada apa dengan Syi’ah ?!?
Para pembaca yang budiman, Para pecinta Ahlul-Bait yang baik hati… Bukankah setiap manusia pasti akan mati? lalu mengapa selalu menangis di atas sebuah kepastian? Ataukah kita menangis karena Saidina al-Husain tidak pantes mati? mestikah beliau hidup selama-lamanya? Bila menangis mengenang proses kematiannya yang sangat brutal… Memang, prosesnya buruk dan cukup memprihatinkan bahkan menyakitkan… namun… lupakah kita bahwa akhirnya beliau mendapat gelar Syahid… bahkan Sayyidusysuhada’ (Tuan para Syuhada’)… dan bukan hanya itu… beliau juga meraih gelar Sayyid Syabab Ahlil-Jannah (Tuan seluruh penghuni sorga)… Sudah 100% pasti beliau saat itu amat bahagia dan penuh kepuasan… Para nabi terdahulu mendapatkan keselamatan di hari Asyura’, namun masih hidup di dunia dengan segala jerih-payah dan manis-pahitnya… sementara Imam al-Husain Ra. di hari Asyura’ mendapatkan kegemilangan yang sungguh tiada tara… melebihi kegemilangan para nabi terdahulu di hari-hari Asyura’ mereka… Beliau bebas dari penjara dunia yang fana’ ini… beliau lepas dari sarang segala penyakit… Sungguh beliau amat bahagia di hari itu… seakan keluar dari penjara yang penuh dengan rasa takut, bosan, lapar, sakit, miskin… menuju keindahan sorga yang telah dinanti-nantikan… Di hari Asyura’, Imam al-Husain Ra. dapat bertemu dengan Rasul dan kedua orang tuanya… bahkan telah bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan penuh rido… Oh betapa bahagianya beliau saat itu.
Jika ternyata beliau bahagia di hari itu, lalu apa lagi yang ditangiskan oleh mereka yang sok cinta itu? Mestinya kita turut bergembira dengan kegembiraan beliau… berbahagia dan berpesta-pora merayakan istisyhad beliau yang luar biasa itu… Dengan kegemilangan yang beliau raih itu, kita merasa bangga menjadi umat Nabi Muhammad Saw…. berbahagialah kita di hari Asyura’ melebihi kebahagiaan umat-umat terdahulu… Madad ya Rasulallah… Madad ya Sayyidanal-Husain…
Kaum Sufi adalah kelompok yang senantiasa berbahagia di hari Asyura’… Mereka yakin seandainya saja Imam al-Husain diberi dua pilihan; mati biasa atau mati syahid, beliau pasti akan memilih mati syahid, separah apapun prosesnya, pokoknya syahid, bila perlu secepatnya… Beliau lahir di dunia ini seolah baru memasuki ruang ujian… yang kemudian pada hari istiyhad, beliau dinyatakan lulus dengan nilai MUMTAZ Ma’a Martabatisysyaraf !! Yang tidak berbahagia di hari itu berarti tidak senang dengan kesuksesan dan keberhasilan beliau dalam meraih keinginannya !! Yang menangis dan bersedih karena kegemilangan dan kebahagiaan beliau berarti meremehkan dan merendahkan bahkan membenci beliau !! “Qul bifadllillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahu huwa khairun mimma yajma’un”.
Pada hari Asyura’ di Karbala’, Imam al-Husain Ra. sangat berbahagia… bertemu dengan Rasul dan Ahlul-Bait… Masuk sorga tanpa basa-basi… bahkan menjadi boss terbesar di sorga… Menjadi ketua para syuhada’ di sorga… dan ini merupakan sebuah kebanggaan yang patut kita senangi dan syukuri… bukan malah cengeng sambil merobek baju dan melukai diri sendiri !! Allah swt. telah memberikan umat Nabi Muhammad Saw. di hari Asyura’ melebihi yang Ia berikan kepada umat-umat sebelumnya di hari yang sama… ialah Istisyhad sang cucu; Imam al-Husain Ra. Sungguh merpakan kegemilangan yang tiada tara dan luar biasa !!
“Allah telah meridlai mereka, dan mereka pun telah meridlai Allah” firman-Nya dalam al-Qur’an… Bagaimana meridoi Allah agar Allah meridoi kita? Saidina Abu Bakr Ashshiddiq Ra. berkata: “Bila kamu bahagia ketika ditimpa musibah sebagaimana kamu bahagia ketika diberi nikmat, maka kamu telah meridoi Allah” !!
Kaum Sufi (Pecinta Ahlul-Bait yang sesungguhnya) senantiasa berbahagia dalam keadaan apapun dan atas peristiwa apapun… lebih-lebih dalam rangka yang bahagia seperti istisyhad-nya Saidina al-Husain… mereka sudah tentu berpesta-pora… gembira mengenang kebahagiaan beliau… tidak seperti golongan Syi’ah yang berlebihan itu.
SYAHID, adalah gelar yang senantiasa dikejar-kejar oleh orang-orang shalih, karena merupakan akhir hayat yang sangat mulia, yang dapat menghapus segala kesilapan sebelumnya dan tidak akan ada kesengsaraan sesudahnya. Saidina Abu Bakr syahid dengan gigitan ular, Saidina Umar syahid di tangan Abu Lu’lu’ah al-Majusi, Saidina Ali syahid di tangan Abdurrahman bin Marjum… begitu pula dengan Saidina Utsman, Saidina al-Hasan, dll. Semua mengharapkan kesyahidan !! Sebagai salah satu bukti cinta tulus kepada Ahlul-Bait adalah berbahagia di hari kebahagiaan mereka... berbahagia ketika mereka bahagia... bukan sebaliknya. Sedih di hari Asyura' sama dengan tidak senang bila Imam al-Husain berhasil mencapai harapannya !!

TAFSIR MIMPI

Perjalanan mimpi berlangsung dan terjadi tiada lain karena kekuasaan Allah yang sangat mutlak. Artinya: sebagai salah satu tanda kekuasaan Tuhan adalah: menjadikan manusia dapat melihat dengan mata tertutup, dan dapat mendengar dengan telinga yang sedang non-aktif (tidur)… Manusia dapat merasakan tanpa indra apapun… bahkan dapat melihat hal-hal di luar akal dan memahami, mengingat dan menghafalnya dengan baik. Semua ini adalah tanda kekuasaan sang pencipta (Allah Swt.) yang tidak selalu disadari oleh setiap hamba.

Terkadang mimpi itu merupakan sebuah isyarat atau petunjuk yang bertujuan mengingatkan atau menggambarkan keadaan ataupun nasib seseorang… dan biasanya petunjuk mimpi itu berlawanan dengan kenyataan, contohnya: mimpi bersetubuh dengan ibu, konon berarti tahun itu ia akan melaksanakan ibadah haji !! dari itu Allah Swt. telah mengaruniai sebagian hamba-hamba-Nya kepandaian dalam membuka tabir mimpi dan mendeteksi makna-makna yang tersirat di balik jendela mimpi. Mereka itu adalah para penafsir mimpi.

Tafsir mimpi adalah salah satu disiplin ilmu yang diajarkan oleh Allah Swt. kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Ilmu tafsir mimpi ini dalam al-Qur’an disebut dengan Ta’wilul-Ahadits… Allah berfirman :
" رب قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث "
Dengan demikian maka alat sang penafsir untuk menafsirkan mimpi adalah Qur’an, Sunnah dan ada satu lagi alat terpenting, yaitu: al-Farasah !! al-Farasah adalah firasat hati yang tepat… Artinya: seorang penafsir mimpi harus menatap sebuah mimpi dengan tatapan tajam serta memandang orang yang mimpi dengan mata hati yang jujur dan penuh kebijaksanaan. Tidaklah baik bila penafsiran mimpi dilaksanakan via telpon, surat, buku ataupun yang lain. Haruslah face to face !! karena alat terpenting untuk menafsirkan mimpi adalah: al-Farasah sebagai tatapan cahaya Ilahi !! Rasul Saw. bersabda :
" اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله "
Mengapa harus dengan al-Farasah? Kondisi orang yang mimpi perlu diperhatikan dengan baik, sebab boleh saja dua orang atau lebih memimpikan hal atau kejadian yang sama, namun apakah artinya juga sama ?!? Tentu akan berbeda sesuai keadaan masing-masing, di situlah firasat sang penafsir akan difungsikan dan tatapan hatinya yang bersih mulai dimainkan untuk maslahat setiap orang.

Disamping itu juga, penafsiran mimpi itu tidak akan terus menetap dan membeku, ia tidaklah permanen, melainkan mimpi yang satu dapat ditafsirkan dengan ribuan bahkan jutaan makna sesuai situasi dan kondisi manusia serta keadaan dunia dari masa hingga masa, ia pun berkembang mengikut perkembangan zaman dan makan… Dari itulah Allah menyebut mimpi dalam al-Qur’an dengan istilah al-Ahadits yang berakar dari kata hadits yang artinya: suatu hal yang baru. Maknanya: mimpi itu berikut tafsirannya tidaklah tetap, melainkan terus berkembang dan membaru dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari manusia ke manusia (dari keadaan ke keadaan lainnya).

Mimpi, baik ataupun buruknya, tidak baik diceritakan kepada semua atau sembarang orang, agar terlepas dari ucapan-ucapan ataupun komentar-komentar yang sekiranya tidak benar dan dapat menggelisahkan. Memanglah tidak semua mimpi mempunyai arti, terkadang sebagian mimpi hanyalah kembang tidur, namun terkadang pula mimpi itu perlu disikapi dengan cukup serius. Dan solusi satu-satunya adalah: mengadu ke ahlinya, bukan ke siapa saja !! bukan pula ke buku Ibnu Sirin ataupun primbon Jawa !!

Kesimpulan dari catatan singkat ini adalah :
- Mimpi adalah salah satu tanda kekuasaan Tuhan karena manusia dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa indra apapun, semua indra tidak aktif. Sama halnya dengan orang yang sudah mati, ia masih dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa bernafas sekalipun.
- Ada mimpi yang sekedar kembang tidur dan ada pula yang mempunyai makna tertentu.
- Mimpi tidak baik diceritakan ke semua atau sembarang orang.
- Memperhatikan perkembangan psikologi manusia dari masa hingga masa, maka untuk menafsirkan mimpi tidak tepat bila hanya merujuk kepada buku-buku para pendahulu.
- Penafsiran mimpi via sms, telpon, surat, televisi, buku atau yang lain adalah metode penafsiaran yang kurang tepat, harus face to face dengan sebab yang sudah diterangkan di atas.
- Untuk mengetahui tafsir mimpi, harus mengadu kepada ahlinya, bukan ke sembarang orang atau ke sembarang kertas.
- Penafsir mimpi yang benar-benar ahli adalah mereka yang ahli al-Qur'an, ahli al-Sunnah dan ahli al-Farasah. Bukan siapa saja, karena akibatnya akan fatal dan hanya menambah gelisah.
- Dan lain-lain.

ISLAMI

Membincang antara sebuah klaim dan kebenaran, sebenarnya klaim yang mengusung kebenaran atau kebenaranlah yang selanjutnya harus menelorkan beberapa klaim? Agaknya keduanya sama-sama meragukan. Tapi kenyataannya, Islam sebagai ajaran kebenaran kerap terlihat aneh. Ia seolah menjadi agama yang ditelorkan dan dibesarkan dalam sebuah klaim. Sebuah kandang yang setiap kelompok membuatnya, yang setiap golongan menjagokannya, yang siap diadu, berdarah-darah, ambruk, lalu banyak yang bertepuk.


Al-Qur’an sebagai pondasi Islam, adalah ruang kesempurnaan untuk perjalanan wahyu risalah ilahiah. Pada akhir abad keenam di jazirah Arab, antara Makkah dan Madinah, seluruh wahyu itu telah disemprongkan dalam bahasa kesusastraan tertinggi Arab. Karena Rasulullah saw. berdarah biru Quraisy, orang Arab asli, Muhammad bin Abdillah. Terlebih, beliau juga harus menyampaikannya kepada masyarakat Arab, kaum gurun yang memiliki peradaban dan adat istiadat, yang kesehariannya lekat dengan jubah, yang diberi anugrah janggut agar dirawat, dan kaum yang masih jahiliah.

Islam, agama pungkasan sekaligus pamungkas. Pada awal kedatangannya, pilar-pilar peradaban Arab jahiliah yang telah mapan benar-benar terguncang. Sontak, penduduk Arab tercengang, takjub sekaligus resah! Sebab, tiap serat ayatnya adalah mukjizat yang demikian dahsyat. Kesatuan pemahaman tentang konsep Tuhan politheisme yang telah kokoh tidak lama harus roboh. Sekian budaya usang, hukum adat istiadat warisan nenek moyang yang telah lama terserap pun segera menguap.
Ya, Islam yang asing, Islam yang amazing! Pada pucuknya, di negeri awal mula turunnya wahyu itu, Islam berhasil mengangkat bangsa Arab, dari lembah peradaban Arab jahiliah menjadi peradaban tinggi Arab yang Islami.
Celakanya, kekeringan pemahaman terhadap nash yang shahih, kerdilnya pengertian atas identitas Islam, kembali menyebabkan universalisme Islam terpasung, justru ketika nilai-nilainya harus merambat ke beberapa wilayah di luar Arab.
Di Maroko, prasangka khalayak sempat meledak "Orang muslim harus Arabi!, yang Arabi itulah muslim!”, “Jubah yang nyunnah Rasul jubah ala Maroko!" Sampai juga di Asia, ada beberapa muslim yang merasa wah, ketika bisa menunjukan keislamannya dengan ikatan sorban dan jubah, atau menggantungkan di janggutnya yang dipaksakan memanjang, di balik cadar, di semerbak minyak kasturi, di setiap ucapan yang sering terpenuhi huruf hija’iah, pada semua simbol-simbol kultural keberagamaan warga Arab yang diimport, untuk secara tragis memasung nilai-nilai universalisme, kontekstualisme, dan kesakralan Islam. Karena begitulah saat Arabisme menjangkit, yang mengimajinasikan budaya Islam adalah budaya kearab-araban. Hasilnya, Islam terjual murah, Islam dibajak mudah, Islam jatuh sakit.
Padahal Mesir, Saidina Amru bin Ash ra. dalam ekspansinya memang praktis telah sempurna menyepuhkan warna arabisme di bumi kinanah itu. Namun apakah semua penduduk Mesir yang telah menjiwai, bernafaskan Arabi memeluk Islam? Tidak, di sana masih bercokol Arabi nasrani, Arabi yahudi, bahkan Arabi atheis yang tanpa nabi sekalipun!
Menjadi umat Saidina Muhamad bukan berarti harus menjadi kaum Saidina Muhammad, makna kaum berbeda dengan umat. Dr. Ahmad Khalafallah, pemikir Mesir tahun 50-an ini dalam karyanya Urubat al-Islam menguraikan, kaum Muhammad merekalah orang-orang Arab, entah muslim ataupun kafir, sedang umat Muhammad adalah umat muslimin, baik orang Arab maupun bukan. Umat adalah kaum yang taat, layaknya kaumnya nabi Musa, “Wamin qaumi Mûsa ummatun yahduna bil-haqqi wabihi ya’dilun”. Umat Saidina Muhammad, merekalah jama’ah yang kelak akan bersegera mendatangi seruan Rasulullah, "Ummati..ummati..".
Pasalnya, adakah desain pakaian yang Allah khususkan buat umat Islam? Jawabnya: ya, ada!. Itupun hanya pakaian ihram saat menjalankan ibadah haji. Sebuah desain sederhana yang humanis, anti rasis. Bukan kemeja taqwa, sarung, atau jeans. Ketika tawaf, tidak ada (tidak disyari’atkan) kopiah hitam, tidak ada topi koboi, apalagi cadar perempuan gurun.
Mendaftar jadi umat Saidina Muhammad berarti memeluk Islam, baik dengan aksesoris Arab, bercadar, bersarung, berkemeja, berkerudung, berjas, ataupun berdasi. Entah berunta, bersepeda, ataupun bermerci. Sebab semua itu adalah bagian dari ragam produk peradaban manusia sesuai kreatifitas dan tingkat kemajuan pola pikir tiap masing-masing bangsa. Semuanya Islami, jika pantas dipakai umat Islam, tidak menerabas lintasan syar’i.
Arabisme memang sebuah cengkraman. Namun selepasnya, nilai Islam masih bisa saja terkurung dalam kubangan yang lebih besar, di belahan bumi timur. Saat kaum muslim serentak memilih sebuah sikap; ganyang dan kutuk barat! pada kekafirannya, pada peradabannya, pada semuanya. Padahal diakui, keberislaman orang timur banyak berhutang pada penemuan-penemuan barat. Tidak perduli, barat dikutuk seumur bumi dan langit, padahal hembusan ampunan, hidayah Tuhan di bawah hitungan detik dan menit. Klaim berlanjut, “Peradaban barat tidak Islami!”. Kemudian ramai-ramai umat islam menjenguk barat sebagai kutukan, bom dan teror.
Tidak! Bagi seorang ulama’ Islam sejati yang tangguh. Saat keimanannya adalah detak jantungnya. Produk budaya barat tidak pernah ia takutkan. Sebaliknya, keislamannya tertantang untuk hadir sebagai rahmatan lil-alamin, mampu berdialog, dengan hikmah, berusaha menjinakkan peradaban barat yang dipandang masih liar. Lalu menyerap peradaban yang layak dikonsumsi, sebagai nutrisi bangsa timur-Islam, untuk sebuah kebangkitan, mewujudkan bangsa timur-Islam yang lebih maju. Bukan malah keburu congkak, atau gemar melakonkan sosok Ken Arok.
Sebut saja tokoh-tokoh sekaliber al-Afghani (Persia), Muhammad Abduh (Mesir), al-Kawakibi (Syiria), Iqbal (India). Bagi tokoh pembaharu seperti mereka, anugrah kenikmatan spiritualitas Islam yang terkucur di bumi timur, lewat hembusan ayat-ayat al-Qur’an, bukanlah obor untuk memberangus tapal batas kebajikan. Kebaikan yang universal, yang tidak hanya tumbuh di punggung timur, tidak pula hanya di dada barat, ialah kebaikan milik Tuhan, Penguasa barat dan timur, yang berhak menumbuhkannya di manapun. Sebagai ayat-ayat-Nya yang luasnya tanpa ampun. “Nun, wal-qalami wa ma yasthurun”.
Hanya menyembah peradaban masa lampau, bernostalgia dengan masa kejayaannya, atau sebaliknya, membeo, berkiblat ke arah peradaban barat, merupakan faktor dasar kejumudan umat Islam. Karena menyelami bahtera hakekat Islam berarti melipat klaim “Muslim adalah aku”, menggantinya dengan slogan “Aku adalah (juga) muslim”, lalu menyimak baik-baik firman Tuhan, "Bukanlah sebuah kebajikan, kamu berkiblat pada timur ataupun barat”. (Soda)