Seorang mufti Mesir yang disegani umat... dan guru besar ushul fiqh di al-Azhar.. Dr. Ali Jum'ah al-Syafi'i.. baru-baru ini mengeluarkan fatwanya yang cukup menghebohkan dunia... "Minum air kencing Rasul Saw. hukumnya halal"... !!! Fatwa ini mendapat banyak kritikan dari berbagai lembaga agama, termasuk al-Azhar sendiri… Semua meminta beliau untuk meralat kembali fatwa tersebut... melalui banyak alasan.. di antaranya: Riwayat-riwayat yang menceritakan tentang para sahabat yang sempat meminum air kencing Rasul Saw. adalah merupakan akibat dari ketidaktahuan mereka.. bukan karena disengaja.. Alasan lain karena fatwa tersebut akan memberikan kesempatan kepada musuh-musuh islam untuk menghina dan mencaci agama islam serta Rasulnya… menganggap bodoh dan kolot umat islam… bukan hanya itu saja, tapi juga jorok dan kotor !! Bukankah mereka (musuh-musuh islam) telah mencaci-maki dan menghina Nabi dengan berbagai lukisan dan karikatur? lalu bagaimana lagi bentuk lukisan tersebut bila mereka mendengarkan fatwa Dr. Ali Jum'ah terbaru ini ?? Ada apa gerangan dengan sang mufti? Salahkah dia?
Untuk mengomentari persoalan yang cukup sensitif ini, kita sebagai umat islam yang moderat (ummatan wasatha) harus tahu lebih dahulu bahwasanya yang disebut fatwa adalah yang mengenai suatu perbuatan yang bisa dilakukan dan ditinggalkan.. apakah boleh atau tidak? apakah dilakukan atau ditinggalkan? itu baru namanya fatwa. Pada zaman ini tidak ada lagi air kencing Nabi.. lalu buat apa fatwa itu dikeluarkan? boleh diminum ataupun tidak.. mana dulu air kencingnya ?!?!?!??! Ini bukanlah fatwa, melainkan realita… fakta… peristiwa nyata… yang sudah berlalu lama… dan sebatas untuk diceritakan saja… bukan untuk difatwakan halal-haramnya !! menceritakannya pun amat tidak bijak bila untuk siapa saja !! karena :
ليس كل ما يعرف يقال .. وليس كل ما يقال جاء أوانه .. وليس كل ما جاء أوانه حضر أهله
Tidak semua yang diketahui baik disampaikan… Tidak semua yang baik disampaikan tiba saatnya… Dan tidak semua yang tiba saatnya hadir ahlinya !! Artinya: seorang alim da'i yang bijak ialah yang tidak menyampaikan semua ilmunya kepada awam dan sembarang orang.. ia harus melihat lebih dahulu sudah tiba saatnya atau belum.. ia pun harus melihat yang hadir berhak menerimanya atau belum berhak !!
Kita semua pernah mendengarkan atau membaca sebuah petuah masyhur yang berbunyi :
كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع
Sungguh dusta seorang yang menyampaikan semua yang ia ketahui !!
Apabila seseorang memberikan suatu hikmah kepada bukan ahlinya maka ia telah menzalimi hikmah itu sendiri… dan apabila ia menyembunyikannya dari para ahlinya maka ia telah menzalimi mereka… Seorang yang hakim (bijak) ialah yang tidak memberikan hikmah itu kecuali kepada ahilnya saja dan pada waktu yang setepat-tepatnya.
Imam Ali Ra. pernah mengatakan: "Apabila aku sampaikan semua yang pernah aku dengar dari Rasul Saw. maka kalian akan mengatakan bahwa aku telah berdusta". Saidina Abu Hurairah Ra. juga pernah berkata: "Aku telah menerima dua bagian ilmu dari Rasul Saw. Bagian yang pertama aku sampaikan, adapun bagian yang kedua apabila aku sampaikan maka leherku akan disembelih orang".
Rasul Saw. pernah bersabda: "Kami para nabi mendapatkan perintah untuk mengajari umat sesuai hajat dan kemampuan akal mereka… bukan sesuai akal dan kadar pengetahuan kami". Seorang yang alim ketika mengajar harus menguasai ilmunya lebih dahulu sekaligus mengetahui kadar murid-muidnya… karena tidak tepat bila anak kecil diajari ilmu aljabar sebelum diajari ilmu membaca dan menulis !!!
Ketika menyebut kata kekuatan.. identik difahami dengan otot besi dan urat kawat.. padahal ada kekuatan lain seperti menahan emosi dan kekuatan iman… Ketika menyebut kata rizki.. identik diartikan harta dan uang.. padahal angin, ilmu, kesehatan.. juga merupakan rizki… Ketika menyebut kata cinta.. identik dimaknai dengan hubungan antara dua kekasih yang saling menyayangi.. dan melupakan cinta-cinta lainnya.. cinta Allah dan Rasul-Nya… Kesalahpahaman terhadap makna kalimat telah membuat salah penafsiran terhadap apa yang disampaikan para ulama'.. dimana seorang ulama' juga di sisi tertentu harus meyakini ajarannya akan sampai dengan tepat ke para muridnya sebelum ia menyampaikannya. Rasul pernah bersabda: "Tidaklah seorang menyampaikan suatu ilmu kepada kaumnya yang tidak mampu mencernanya melainkan ilmu itu akan menjadi fitnah bagi mereka".
Apabila ilmu yang benar disampaikan bukan pada waktunya dan bukan kepada ahlinya.. di situlah muncul fitnah besar yang menyala-nyala.. Karena tidak semua orang mampu memahami tentang permata dan berlian.. Tentunya berbicara tentang sosok mulia seperti Rasulullah Saw. jauh lebih bernilai dari pada intan dan permata !! Pantaskah disampaikan ke semua orang ?!?
Antara guru dan murid harus sama-sama punya etika.. karena etika seorang guru yang alim sudah disebutkan di atas, maka etika seorang murid adalah mencerna dengan baik dan memahami dengan kepala yang sejuk.. bukan dengan emosi dan egoisme yang berlebihan.. Apabila mereka keberatan dengan bolehnya meminum air kencing Nabi.. lalu mengapa mereka tidak keberatan dengan bolehnya meminum air kencing unta untuk pengobatan ?!? Apakah kencing binatang lebih mulia dari Nabi ?!?!?
Segala sesuatu ada ahlinya.. ada spesialisnya… Ketika radio pertama kali ditemukan, ada yang mengatakan: "Di dalamnya ada jin"… Ketika TV ditemukan, ada yang mengatakan: "Ini jinnya !!"… Kejahilan bukanlah aib.. melainkan yang aib adalah menghina dan memaki suatu hal yang tidak diketahui maksudnya, tidak difahami esensinya dan tidak dikuasai ilmunya.
Ketika seseorang yang buta matanya tidak dapat melihat sinar matahari.. tidaklah berarti mataharinya tidak ada.. permasalahannya bukan terletak pada matahari.. melainkan pada mata orang buta itu sendiri !!
Para pembaca yang budiman.. sang mufti sebetulnya tidak keliru dalam keyakinannya tentang status air kencing Nabi Saw... hanya saja.. sayang seribu kali sayang.. beliau tidak memperhatikan waktu dan orang-orang yang mendengarkannya !!
Seorang waliyullah mengatakan :
على رأس هذا الكون نعل محمد # علت فجميع الكون تحت ظلاله
على الطور موسى نودي إخلع وأحمد # فوق العرش لم يؤذن بخلع نعاله
Dia adalah Saidina Muhammad,
Terompah miliknya di atas jagad raya,
Bayangan keagungannnya mengepung alam semesta,
Sedangkan Nabi Musa di atas bukit sinai tak boleh bersendal,
Sementara Nabi Muhammad di atas arsyi-pun ia masih berterompah !!
Berbicara tentang keistimewaan Rasulullah Saw. tidak akan pernah dijangkau oleh siapapun dan buku manapun… bukan hanya keistimewaan beliau secara batin dan rohani saja.. secara zahir dan jasmani-pun jangan coba-coba !! Dengan demikian maka orang yang mengatakan bahwa Rasul adalah manusia biasa, keimanannya masih sangat dipertanyakan !! Beliau memang manusia.. namun sungguh bukan manusia biasa.. beliau adalah manusia sempurna.. manusia luar biasa yang aslinya cahaya !! Allah berfirman: "Telah datang kepada kalian cahaya dari Allah yaitu Baginda Rasul Saw."
Okelah itu air kencing.. tapi air kencing siapa dulu ?!? Okelah itu kencing manusia.. tapi apakah Rasulullah Saw. manusia biasa ?!? seperti kita ?!? Bukankah beliau tidak mempunyai bayangan ?!? Bukankah keringat beliau lebih wangi dari minyak kasturi ?!? Bukankah air ludah beliau dapat mengembalikan mata yang telah terpisah dari kepala ?!? Bukankah darah beliau menjadi obat bagi segala jenis penyakit ?!? Bukankah air sisa wudu' beliau direbut banyak sahabat ?!? Bukankah dari dan untuk beliau semua tercipta ?!? Bukankah semua mala'ikat menjadi pelayan setia ?!? Bukankah kepada beliau semua nabi dan rasul tundukkan kepala ?!? Bukankah Madinah beliau tak mampu dimasuki Dajjal durjana ?!? Bukankah beliau telah menembus langit-langit sampai ke luar angkasa bahkan menembus arsyi dan sidratul-muntaha dalam satu malam tanpa rocket, tanpa bantuan oksigen atau yang lainnya ?!? Lalu masihkah kita mengatakan beliau manusia biasa ?!? Dan masihkah kita mengkias dan menyamakan air kencing beliau dengan air kencing kita ?!?!?!??!?! ……………… ............ cukup ……….. ............ wallahu a'lam
Minggu, 11 April 2010
BALA, TAWAKAL
Setiap manusia tidak akan pernah lepas dari bala bencana, siapapun dia; nabi, wali, orang muslim biasa, orang shalih maupun orang kafir. Hanya saja bala’ itu sendiri oleh orang-orang mulia dibagi menjadi empat macam: Yang pertama: Bala’ Intiqam, yaitu bala’ yang turun untuk tujuan memusnahkan atau mengakhiri. Bala’ ini dikhususkan untuk mereka yang kafir dan ingkar. Allah berfirman “Fantaqamna minhum fanzur kaifa kana aqibatul-mukazzibin”.
Bala’ Intiqam ini bila telah turun kepada orang-orang kafir, tidak berarti mereka bebas dari siksaan di hari akhirat, karena Allah berfirman: “Lahum fiddunya khizyun wa lahum fil-akhirati azabun azim”.
Bala’ yang kedua disebut dengan Bala’ Mahwu Sayyi’ah; yang bertujuan untuk menghapus dosa. Bala’ ini turun kepada mereka orang-orang islam pada umumnya yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Rasulullah Saw. bersabda: “Humma lailah kaffarah sanah”; Demam satu malam menghapus dosa satu tahun.
Bala’ yang ketiga disebut dengan Bala’ Raf’u Darajah. Bala’ ini untuk mereka orang-orang shalih dan orang-orang khawas bukan untuk memusnahkan mereka dan bukan juga untuk menghapus dosa mereka, sebab mereka tak berdosa sebagaimana halnya orang-orang awam. Melainkan mereka mendapat bala’ semata-mata agar derajat tinggi mereka mendapat peningkatan dari Allah Swt. sebagaimana yang menimpa kepada Saidina Binyamin As. sebagaimana firman Allah Swt.: “Kadzalika kidna liyusufa ma kana liya’khudza akhahu fi dinil-malik illa an yasya’allahu narfa’u darajati man nasya’ wa fauqa kulli dzi ilmin alim”.
Yang terakhir adalah Bala’ Mahabbah yang semata-mata untuk membkutikan cinta Allah kepada hamba-Nya. Bala’ ini khusus untuk para rasul, para nabi dan para wali. Bala’ yang menimpa justru sebagai tanda cinta. Rasul bersabda: “Idza Ahabballahu abdan ibtalahu”.
Dengan demikian maka siapapun dia, tidak akan lepas dari yang namanya bala’, hanya saja jenis bala’nya yang bagaimana ?!? semoga Allah Swt. menjadikan bala’ yang menimpa kita adalah untuk mengahpus dosa kita, bukan untuk memusnahkan kita, Amin!
Dalam menghadapi musibah, kita perlu menanam sifat sabar dalam hati kita, yang mana sabar itu sendiri ada tiga macam: Yang pertama: Sabar yang pahit yang disertai perasaan kecewa dan sedih namun tetap sabar dan tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Dalam al-Qur’an: “Wabasysyir ashshabirina alladzina idza ashabathum mushibatun qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Sabar yang kedua tidak sepahit sabar yang pertama, bahkan tidak kecewa dan dengan senang hati menerima taqdir-Nya, beda halnya dengan sabar yang pertama; sabar yang disertai berat hati dan duka. Allah berfirman: “Alladzina qala lahum annasu innannasa qad jama’u lakum fakhsyauhum fazadahum imana wa qalu hasbunallahu wa ni’mal-wakil fanqalabu bini’matin minallahi wa fadhlin lam yamsashum su’un wattaba’u ridhwanallahi wallahu dzu fadhlin azim”.
Sabar yang ketiga adalah sabarnya mereka yang justru bahagia dengan taqdir Allah sepahit apapun taqdir itu, mereka tetap bahagia dan bersuka cita karena mereka telah memilih Allah dari pada yang selain-Nya, sehingga mereka yakin kebaikan justru terdapat dalam musibah itu sendiri karena di sebalik itu pasti ada yang lebih baik lagi. Allah berfirman: “Radhiyallahu anhum wa radhu anhu dzalika liman khasyiya rabbah”. Saidina Abu Bakr Ra. berkata bahwa seseorang akan mendapat ridho Allah apabila ia sendiri telah meridhoi-Nya, dalam artian meridhoi qada’ dan qadar-Nya, dan tanda seseorang ridho kepada Allah adalah apabila ia bahagia dengan suatu musibah sebagaimana ia bahagia dengan suatu nikmat, maka ia telah ridho kepada Allah, Swt.
Hanya saja Allah Swt. senantiasa menuntut kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras demi meraih cita-cita. Jangan hanya mengharap pemberian-Nya tanpa mau berikhtiar dan berusaha, sebab tawakal adalah kepasrahan yang diawali dengan usaha yang maximal. Bila tidak berusaha dan hanya menrima hasil maka itu disebut Tawakul dan bukan Tawakkul.
Tawakal yang tepat dan benar adalah yang diawali dengan usaha yang maximal, dan oleh orang-orang mulia dibagi juga menjadi tiga bagian: Tawakal yang pertama adalah Berusaha lalu menerima apapun hasilnya. Yang kedua: Berusaha lalu meridhoi apapun hasilnya. Sedangkan yang ketiga dan yang tertinggi adalah: Berusaha dan tetap bahagia apapun hasilnya.
Adapun bila tidak berusaha dan hanya menunggu hasil maka disebut Tawakul dan inilah yang dicela oleh Allah Swt. karena Ia berfirman: “Wa qul i’malu fasayarallahu amalakum wa rasuluhu wal-mu’minun”. Pasrah kepada Allah tanpa didahului usaha yang maximal adalah melanggar fithrah itu sendiri! (…bersambung…)
Bala’ Intiqam ini bila telah turun kepada orang-orang kafir, tidak berarti mereka bebas dari siksaan di hari akhirat, karena Allah berfirman: “Lahum fiddunya khizyun wa lahum fil-akhirati azabun azim”.
Bala’ yang kedua disebut dengan Bala’ Mahwu Sayyi’ah; yang bertujuan untuk menghapus dosa. Bala’ ini turun kepada mereka orang-orang islam pada umumnya yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Rasulullah Saw. bersabda: “Humma lailah kaffarah sanah”; Demam satu malam menghapus dosa satu tahun.
Bala’ yang ketiga disebut dengan Bala’ Raf’u Darajah. Bala’ ini untuk mereka orang-orang shalih dan orang-orang khawas bukan untuk memusnahkan mereka dan bukan juga untuk menghapus dosa mereka, sebab mereka tak berdosa sebagaimana halnya orang-orang awam. Melainkan mereka mendapat bala’ semata-mata agar derajat tinggi mereka mendapat peningkatan dari Allah Swt. sebagaimana yang menimpa kepada Saidina Binyamin As. sebagaimana firman Allah Swt.: “Kadzalika kidna liyusufa ma kana liya’khudza akhahu fi dinil-malik illa an yasya’allahu narfa’u darajati man nasya’ wa fauqa kulli dzi ilmin alim”.
Yang terakhir adalah Bala’ Mahabbah yang semata-mata untuk membkutikan cinta Allah kepada hamba-Nya. Bala’ ini khusus untuk para rasul, para nabi dan para wali. Bala’ yang menimpa justru sebagai tanda cinta. Rasul bersabda: “Idza Ahabballahu abdan ibtalahu”.
Dengan demikian maka siapapun dia, tidak akan lepas dari yang namanya bala’, hanya saja jenis bala’nya yang bagaimana ?!? semoga Allah Swt. menjadikan bala’ yang menimpa kita adalah untuk mengahpus dosa kita, bukan untuk memusnahkan kita, Amin!
Dalam menghadapi musibah, kita perlu menanam sifat sabar dalam hati kita, yang mana sabar itu sendiri ada tiga macam: Yang pertama: Sabar yang pahit yang disertai perasaan kecewa dan sedih namun tetap sabar dan tidak putus asa terhadap rahmat Allah. Dalam al-Qur’an: “Wabasysyir ashshabirina alladzina idza ashabathum mushibatun qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Sabar yang kedua tidak sepahit sabar yang pertama, bahkan tidak kecewa dan dengan senang hati menerima taqdir-Nya, beda halnya dengan sabar yang pertama; sabar yang disertai berat hati dan duka. Allah berfirman: “Alladzina qala lahum annasu innannasa qad jama’u lakum fakhsyauhum fazadahum imana wa qalu hasbunallahu wa ni’mal-wakil fanqalabu bini’matin minallahi wa fadhlin lam yamsashum su’un wattaba’u ridhwanallahi wallahu dzu fadhlin azim”.
Sabar yang ketiga adalah sabarnya mereka yang justru bahagia dengan taqdir Allah sepahit apapun taqdir itu, mereka tetap bahagia dan bersuka cita karena mereka telah memilih Allah dari pada yang selain-Nya, sehingga mereka yakin kebaikan justru terdapat dalam musibah itu sendiri karena di sebalik itu pasti ada yang lebih baik lagi. Allah berfirman: “Radhiyallahu anhum wa radhu anhu dzalika liman khasyiya rabbah”. Saidina Abu Bakr Ra. berkata bahwa seseorang akan mendapat ridho Allah apabila ia sendiri telah meridhoi-Nya, dalam artian meridhoi qada’ dan qadar-Nya, dan tanda seseorang ridho kepada Allah adalah apabila ia bahagia dengan suatu musibah sebagaimana ia bahagia dengan suatu nikmat, maka ia telah ridho kepada Allah, Swt.
Hanya saja Allah Swt. senantiasa menuntut kita untuk selalu berusaha dan bekerja keras demi meraih cita-cita. Jangan hanya mengharap pemberian-Nya tanpa mau berikhtiar dan berusaha, sebab tawakal adalah kepasrahan yang diawali dengan usaha yang maximal. Bila tidak berusaha dan hanya menrima hasil maka itu disebut Tawakul dan bukan Tawakkul.
Tawakal yang tepat dan benar adalah yang diawali dengan usaha yang maximal, dan oleh orang-orang mulia dibagi juga menjadi tiga bagian: Tawakal yang pertama adalah Berusaha lalu menerima apapun hasilnya. Yang kedua: Berusaha lalu meridhoi apapun hasilnya. Sedangkan yang ketiga dan yang tertinggi adalah: Berusaha dan tetap bahagia apapun hasilnya.
Adapun bila tidak berusaha dan hanya menunggu hasil maka disebut Tawakul dan inilah yang dicela oleh Allah Swt. karena Ia berfirman: “Wa qul i’malu fasayarallahu amalakum wa rasuluhu wal-mu’minun”. Pasrah kepada Allah tanpa didahului usaha yang maximal adalah melanggar fithrah itu sendiri! (…bersambung…)
PESTA ASYURO
Hari Asyura’ (10 Muharram) adalah hari yang sangat bersejarah… Setiap umat berbahagia pada hari itu… Allah Swt. telah menyelamatkan Nabi Nuh As. dari kaumnya dan berhasil menyeberangi lautan pada hari Asyura’… Nabi Ibrahim As. selamat dari panasnya api pada hari Asyura’… Nabi Musa As. membelah laut menjadi dua dan menyeberanginya pada hari Asyura’… Nabi Isa As. dinaikkan dari muka bumi pada hari Asyura’… Nabi Yunus As. dikeluarkan dari perut paus pada hari Asyura’… Nabi Ayyub As. sembuh dari penyakitnya dan kembali kaya dan berketurunan banyak pada hari Asyura’… Sungguh hari Asyura’ adalah hari kegemilangan… hari kebahagiaan… Setiap nabi telah menemukan kegemilangan hari Asyura’… Setiap umat yang mengikuti para nabi itu turut bahagia dan berpesta pada hari Asyura’ merayakan kegemilangan nabi-nabi mereka… Hari Asyura’ adalah hari yang paling menyenangkan bagi mereka semua.
Namun… Bagaimana dengan Nabi Muhammad Saw. dan umatnya ?? Dimanakah bagian beliau dari kegemilangan hari Asyura’ itu? Kelahiran beliau bukan pada hari Asyura’… Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan pula pada hari Asyura’… Fathu Makkah bukan juga pada hari Asyura’… Kemenangan kaum muslimin dalam perang melawan kuffar tidak pernah juga terjadi pada hari Asyura’… Lalu… Apakah setiap umat bahagia pada hari Asyura’ kecuali umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Imam al-Husain Ra. cucu kesayangan Rasulullah Saw. meninggalkan dunia ini secara syahid tepat pada hari Asyura’… Namun apakah kematian beliau merupakan peristiwa yang patut dirayakan dan dibahagiakan? ditambah dengan terpisahnya kepala dari jasad dalam suasana perang mendidih dan adu golok yang super brutal… peristiwa apa itu? seperti itukah yang terjadi pada Asyura’-nya umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Sebuah golongan yang cukup terkenal, yaitu golongan Syi’ah (di Iran, Libanon dan lainnya), setiap hari Asyura’ mengadakan upacara besar-besaran mempringati wafatnya Imam al-Husain Ra…. pada hari itu mereka melukai diri meraka sendiri dengan pedang tajam secara masal… darah mereka dialirkan dari kepala dan tubuh sambil teriak dan menangis… pemuda-pemuda dan anak-anak kecil pun ikut membuat banjir darah di tengah panasnya matahari… sedih mengenang peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ di Karbala’… Imam yang sangat mereka cintai itu disemblih secara brutal dan tak ada satupun yang menolong ataupun menyelamatkan !!
Pertanyaan yang akan timbul: Mengapa semua umat berbahagia pada hari Asyura’ sementara umat Nabi Muhammad Saw. bersedih dan melukai diri sendiri sambil bersorak ?!?
Syi’ah menyatakan cintanya yang sangat mendalam kepada Saidina al-Husain Ra. Tapi apakah golongan yang lain tidak mencintainya juga? Cinta Ahlul-Bait adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan… Imam Syafi’i Ra. berkata :
يا آل بيت رسول الله حبكم # فرض من الله في القرآن أنزله
يكفيكم من عظيم الفخر أنكم # من لم يصل عليكم لا صلاة له
Demikianlah ketegasan beliau dalam menyatakan kewajiban cinta Ahlul-Bait… dalam bait yang lain beliau juga mengungkapkan :
لو كان حبي آل أحمد بدعة # فإني بتلك البدعة مكتف
Dalam bait yang lain :
لو كان حبي آل محمد رفضا # فليشهد الثقلان أني رافض
Namun cinta Imam Syafi’i Ra. yang setinggi itu kepada Ahlul-Bait tidak pernah mendorongnya untuk besedih atau bersorak melukai diri sendiri dan merobek baju tiap hari Asyura’… Lalu ada apa dengan Syi’ah ?!?
Para pembaca yang budiman, Para pecinta Ahlul-Bait yang baik hati… Bukankah setiap manusia pasti akan mati? lalu mengapa selalu menangis di atas sebuah kepastian? Ataukah kita menangis karena Saidina al-Husain tidak pantes mati? mestikah beliau hidup selama-lamanya? Bila menangis mengenang proses kematiannya yang sangat brutal… Memang, prosesnya buruk dan cukup memprihatinkan bahkan menyakitkan… namun… lupakah kita bahwa akhirnya beliau mendapat gelar Syahid… bahkan Sayyidusysuhada’ (Tuan para Syuhada’)… dan bukan hanya itu… beliau juga meraih gelar Sayyid Syabab Ahlil-Jannah (Tuan seluruh penghuni sorga)… Sudah 100% pasti beliau saat itu amat bahagia dan penuh kepuasan… Para nabi terdahulu mendapatkan keselamatan di hari Asyura’, namun masih hidup di dunia dengan segala jerih-payah dan manis-pahitnya… sementara Imam al-Husain Ra. di hari Asyura’ mendapatkan kegemilangan yang sungguh tiada tara… melebihi kegemilangan para nabi terdahulu di hari-hari Asyura’ mereka… Beliau bebas dari penjara dunia yang fana’ ini… beliau lepas dari sarang segala penyakit… Sungguh beliau amat bahagia di hari itu… seakan keluar dari penjara yang penuh dengan rasa takut, bosan, lapar, sakit, miskin… menuju keindahan sorga yang telah dinanti-nantikan… Di hari Asyura’, Imam al-Husain Ra. dapat bertemu dengan Rasul dan kedua orang tuanya… bahkan telah bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan penuh rido… Oh betapa bahagianya beliau saat itu.
Jika ternyata beliau bahagia di hari itu, lalu apa lagi yang ditangiskan oleh mereka yang sok cinta itu? Mestinya kita turut bergembira dengan kegembiraan beliau… berbahagia dan berpesta-pora merayakan istisyhad beliau yang luar biasa itu… Dengan kegemilangan yang beliau raih itu, kita merasa bangga menjadi umat Nabi Muhammad Saw…. berbahagialah kita di hari Asyura’ melebihi kebahagiaan umat-umat terdahulu… Madad ya Rasulallah… Madad ya Sayyidanal-Husain…
Kaum Sufi adalah kelompok yang senantiasa berbahagia di hari Asyura’… Mereka yakin seandainya saja Imam al-Husain diberi dua pilihan; mati biasa atau mati syahid, beliau pasti akan memilih mati syahid, separah apapun prosesnya, pokoknya syahid, bila perlu secepatnya… Beliau lahir di dunia ini seolah baru memasuki ruang ujian… yang kemudian pada hari istiyhad, beliau dinyatakan lulus dengan nilai MUMTAZ Ma’a Martabatisysyaraf !! Yang tidak berbahagia di hari itu berarti tidak senang dengan kesuksesan dan keberhasilan beliau dalam meraih keinginannya !! Yang menangis dan bersedih karena kegemilangan dan kebahagiaan beliau berarti meremehkan dan merendahkan bahkan membenci beliau !! “Qul bifadllillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahu huwa khairun mimma yajma’un”.
Pada hari Asyura’ di Karbala’, Imam al-Husain Ra. sangat berbahagia… bertemu dengan Rasul dan Ahlul-Bait… Masuk sorga tanpa basa-basi… bahkan menjadi boss terbesar di sorga… Menjadi ketua para syuhada’ di sorga… dan ini merupakan sebuah kebanggaan yang patut kita senangi dan syukuri… bukan malah cengeng sambil merobek baju dan melukai diri sendiri !! Allah swt. telah memberikan umat Nabi Muhammad Saw. di hari Asyura’ melebihi yang Ia berikan kepada umat-umat sebelumnya di hari yang sama… ialah Istisyhad sang cucu; Imam al-Husain Ra. Sungguh merpakan kegemilangan yang tiada tara dan luar biasa !!
“Allah telah meridlai mereka, dan mereka pun telah meridlai Allah” firman-Nya dalam al-Qur’an… Bagaimana meridoi Allah agar Allah meridoi kita? Saidina Abu Bakr Ashshiddiq Ra. berkata: “Bila kamu bahagia ketika ditimpa musibah sebagaimana kamu bahagia ketika diberi nikmat, maka kamu telah meridoi Allah” !!
Kaum Sufi (Pecinta Ahlul-Bait yang sesungguhnya) senantiasa berbahagia dalam keadaan apapun dan atas peristiwa apapun… lebih-lebih dalam rangka yang bahagia seperti istisyhad-nya Saidina al-Husain… mereka sudah tentu berpesta-pora… gembira mengenang kebahagiaan beliau… tidak seperti golongan Syi’ah yang berlebihan itu.
SYAHID, adalah gelar yang senantiasa dikejar-kejar oleh orang-orang shalih, karena merupakan akhir hayat yang sangat mulia, yang dapat menghapus segala kesilapan sebelumnya dan tidak akan ada kesengsaraan sesudahnya. Saidina Abu Bakr syahid dengan gigitan ular, Saidina Umar syahid di tangan Abu Lu’lu’ah al-Majusi, Saidina Ali syahid di tangan Abdurrahman bin Marjum… begitu pula dengan Saidina Utsman, Saidina al-Hasan, dll. Semua mengharapkan kesyahidan !! Sebagai salah satu bukti cinta tulus kepada Ahlul-Bait adalah berbahagia di hari kebahagiaan mereka... berbahagia ketika mereka bahagia... bukan sebaliknya. Sedih di hari Asyura' sama dengan tidak senang bila Imam al-Husain berhasil mencapai harapannya !!
Namun… Bagaimana dengan Nabi Muhammad Saw. dan umatnya ?? Dimanakah bagian beliau dari kegemilangan hari Asyura’ itu? Kelahiran beliau bukan pada hari Asyura’… Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan pula pada hari Asyura’… Fathu Makkah bukan juga pada hari Asyura’… Kemenangan kaum muslimin dalam perang melawan kuffar tidak pernah juga terjadi pada hari Asyura’… Lalu… Apakah setiap umat bahagia pada hari Asyura’ kecuali umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Imam al-Husain Ra. cucu kesayangan Rasulullah Saw. meninggalkan dunia ini secara syahid tepat pada hari Asyura’… Namun apakah kematian beliau merupakan peristiwa yang patut dirayakan dan dibahagiakan? ditambah dengan terpisahnya kepala dari jasad dalam suasana perang mendidih dan adu golok yang super brutal… peristiwa apa itu? seperti itukah yang terjadi pada Asyura’-nya umat Nabi Muhammad Saw. ?!?
Sebuah golongan yang cukup terkenal, yaitu golongan Syi’ah (di Iran, Libanon dan lainnya), setiap hari Asyura’ mengadakan upacara besar-besaran mempringati wafatnya Imam al-Husain Ra…. pada hari itu mereka melukai diri meraka sendiri dengan pedang tajam secara masal… darah mereka dialirkan dari kepala dan tubuh sambil teriak dan menangis… pemuda-pemuda dan anak-anak kecil pun ikut membuat banjir darah di tengah panasnya matahari… sedih mengenang peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ di Karbala’… Imam yang sangat mereka cintai itu disemblih secara brutal dan tak ada satupun yang menolong ataupun menyelamatkan !!
Pertanyaan yang akan timbul: Mengapa semua umat berbahagia pada hari Asyura’ sementara umat Nabi Muhammad Saw. bersedih dan melukai diri sendiri sambil bersorak ?!?
Syi’ah menyatakan cintanya yang sangat mendalam kepada Saidina al-Husain Ra. Tapi apakah golongan yang lain tidak mencintainya juga? Cinta Ahlul-Bait adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan… Imam Syafi’i Ra. berkata :
يا آل بيت رسول الله حبكم # فرض من الله في القرآن أنزله
يكفيكم من عظيم الفخر أنكم # من لم يصل عليكم لا صلاة له
Demikianlah ketegasan beliau dalam menyatakan kewajiban cinta Ahlul-Bait… dalam bait yang lain beliau juga mengungkapkan :
لو كان حبي آل أحمد بدعة # فإني بتلك البدعة مكتف
Dalam bait yang lain :
لو كان حبي آل محمد رفضا # فليشهد الثقلان أني رافض
Namun cinta Imam Syafi’i Ra. yang setinggi itu kepada Ahlul-Bait tidak pernah mendorongnya untuk besedih atau bersorak melukai diri sendiri dan merobek baju tiap hari Asyura’… Lalu ada apa dengan Syi’ah ?!?
Para pembaca yang budiman, Para pecinta Ahlul-Bait yang baik hati… Bukankah setiap manusia pasti akan mati? lalu mengapa selalu menangis di atas sebuah kepastian? Ataukah kita menangis karena Saidina al-Husain tidak pantes mati? mestikah beliau hidup selama-lamanya? Bila menangis mengenang proses kematiannya yang sangat brutal… Memang, prosesnya buruk dan cukup memprihatinkan bahkan menyakitkan… namun… lupakah kita bahwa akhirnya beliau mendapat gelar Syahid… bahkan Sayyidusysuhada’ (Tuan para Syuhada’)… dan bukan hanya itu… beliau juga meraih gelar Sayyid Syabab Ahlil-Jannah (Tuan seluruh penghuni sorga)… Sudah 100% pasti beliau saat itu amat bahagia dan penuh kepuasan… Para nabi terdahulu mendapatkan keselamatan di hari Asyura’, namun masih hidup di dunia dengan segala jerih-payah dan manis-pahitnya… sementara Imam al-Husain Ra. di hari Asyura’ mendapatkan kegemilangan yang sungguh tiada tara… melebihi kegemilangan para nabi terdahulu di hari-hari Asyura’ mereka… Beliau bebas dari penjara dunia yang fana’ ini… beliau lepas dari sarang segala penyakit… Sungguh beliau amat bahagia di hari itu… seakan keluar dari penjara yang penuh dengan rasa takut, bosan, lapar, sakit, miskin… menuju keindahan sorga yang telah dinanti-nantikan… Di hari Asyura’, Imam al-Husain Ra. dapat bertemu dengan Rasul dan kedua orang tuanya… bahkan telah bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan penuh rido… Oh betapa bahagianya beliau saat itu.
Jika ternyata beliau bahagia di hari itu, lalu apa lagi yang ditangiskan oleh mereka yang sok cinta itu? Mestinya kita turut bergembira dengan kegembiraan beliau… berbahagia dan berpesta-pora merayakan istisyhad beliau yang luar biasa itu… Dengan kegemilangan yang beliau raih itu, kita merasa bangga menjadi umat Nabi Muhammad Saw…. berbahagialah kita di hari Asyura’ melebihi kebahagiaan umat-umat terdahulu… Madad ya Rasulallah… Madad ya Sayyidanal-Husain…
Kaum Sufi adalah kelompok yang senantiasa berbahagia di hari Asyura’… Mereka yakin seandainya saja Imam al-Husain diberi dua pilihan; mati biasa atau mati syahid, beliau pasti akan memilih mati syahid, separah apapun prosesnya, pokoknya syahid, bila perlu secepatnya… Beliau lahir di dunia ini seolah baru memasuki ruang ujian… yang kemudian pada hari istiyhad, beliau dinyatakan lulus dengan nilai MUMTAZ Ma’a Martabatisysyaraf !! Yang tidak berbahagia di hari itu berarti tidak senang dengan kesuksesan dan keberhasilan beliau dalam meraih keinginannya !! Yang menangis dan bersedih karena kegemilangan dan kebahagiaan beliau berarti meremehkan dan merendahkan bahkan membenci beliau !! “Qul bifadllillahi wa birahmatihi fabidzalika falyafrahu huwa khairun mimma yajma’un”.
Pada hari Asyura’ di Karbala’, Imam al-Husain Ra. sangat berbahagia… bertemu dengan Rasul dan Ahlul-Bait… Masuk sorga tanpa basa-basi… bahkan menjadi boss terbesar di sorga… Menjadi ketua para syuhada’ di sorga… dan ini merupakan sebuah kebanggaan yang patut kita senangi dan syukuri… bukan malah cengeng sambil merobek baju dan melukai diri sendiri !! Allah swt. telah memberikan umat Nabi Muhammad Saw. di hari Asyura’ melebihi yang Ia berikan kepada umat-umat sebelumnya di hari yang sama… ialah Istisyhad sang cucu; Imam al-Husain Ra. Sungguh merpakan kegemilangan yang tiada tara dan luar biasa !!
“Allah telah meridlai mereka, dan mereka pun telah meridlai Allah” firman-Nya dalam al-Qur’an… Bagaimana meridoi Allah agar Allah meridoi kita? Saidina Abu Bakr Ashshiddiq Ra. berkata: “Bila kamu bahagia ketika ditimpa musibah sebagaimana kamu bahagia ketika diberi nikmat, maka kamu telah meridoi Allah” !!
Kaum Sufi (Pecinta Ahlul-Bait yang sesungguhnya) senantiasa berbahagia dalam keadaan apapun dan atas peristiwa apapun… lebih-lebih dalam rangka yang bahagia seperti istisyhad-nya Saidina al-Husain… mereka sudah tentu berpesta-pora… gembira mengenang kebahagiaan beliau… tidak seperti golongan Syi’ah yang berlebihan itu.
SYAHID, adalah gelar yang senantiasa dikejar-kejar oleh orang-orang shalih, karena merupakan akhir hayat yang sangat mulia, yang dapat menghapus segala kesilapan sebelumnya dan tidak akan ada kesengsaraan sesudahnya. Saidina Abu Bakr syahid dengan gigitan ular, Saidina Umar syahid di tangan Abu Lu’lu’ah al-Majusi, Saidina Ali syahid di tangan Abdurrahman bin Marjum… begitu pula dengan Saidina Utsman, Saidina al-Hasan, dll. Semua mengharapkan kesyahidan !! Sebagai salah satu bukti cinta tulus kepada Ahlul-Bait adalah berbahagia di hari kebahagiaan mereka... berbahagia ketika mereka bahagia... bukan sebaliknya. Sedih di hari Asyura' sama dengan tidak senang bila Imam al-Husain berhasil mencapai harapannya !!
TAFSIR MIMPI
Perjalanan mimpi berlangsung dan terjadi tiada lain karena kekuasaan Allah yang sangat mutlak. Artinya: sebagai salah satu tanda kekuasaan Tuhan adalah: menjadikan manusia dapat melihat dengan mata tertutup, dan dapat mendengar dengan telinga yang sedang non-aktif (tidur)… Manusia dapat merasakan tanpa indra apapun… bahkan dapat melihat hal-hal di luar akal dan memahami, mengingat dan menghafalnya dengan baik. Semua ini adalah tanda kekuasaan sang pencipta (Allah Swt.) yang tidak selalu disadari oleh setiap hamba.
Terkadang mimpi itu merupakan sebuah isyarat atau petunjuk yang bertujuan mengingatkan atau menggambarkan keadaan ataupun nasib seseorang… dan biasanya petunjuk mimpi itu berlawanan dengan kenyataan, contohnya: mimpi bersetubuh dengan ibu, konon berarti tahun itu ia akan melaksanakan ibadah haji !! dari itu Allah Swt. telah mengaruniai sebagian hamba-hamba-Nya kepandaian dalam membuka tabir mimpi dan mendeteksi makna-makna yang tersirat di balik jendela mimpi. Mereka itu adalah para penafsir mimpi.
Tafsir mimpi adalah salah satu disiplin ilmu yang diajarkan oleh Allah Swt. kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Ilmu tafsir mimpi ini dalam al-Qur’an disebut dengan Ta’wilul-Ahadits… Allah berfirman :
" رب قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث "
Dengan demikian maka alat sang penafsir untuk menafsirkan mimpi adalah Qur’an, Sunnah dan ada satu lagi alat terpenting, yaitu: al-Farasah !! al-Farasah adalah firasat hati yang tepat… Artinya: seorang penafsir mimpi harus menatap sebuah mimpi dengan tatapan tajam serta memandang orang yang mimpi dengan mata hati yang jujur dan penuh kebijaksanaan. Tidaklah baik bila penafsiran mimpi dilaksanakan via telpon, surat, buku ataupun yang lain. Haruslah face to face !! karena alat terpenting untuk menafsirkan mimpi adalah: al-Farasah sebagai tatapan cahaya Ilahi !! Rasul Saw. bersabda :
" اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله "
Mengapa harus dengan al-Farasah? Kondisi orang yang mimpi perlu diperhatikan dengan baik, sebab boleh saja dua orang atau lebih memimpikan hal atau kejadian yang sama, namun apakah artinya juga sama ?!? Tentu akan berbeda sesuai keadaan masing-masing, di situlah firasat sang penafsir akan difungsikan dan tatapan hatinya yang bersih mulai dimainkan untuk maslahat setiap orang.
Disamping itu juga, penafsiran mimpi itu tidak akan terus menetap dan membeku, ia tidaklah permanen, melainkan mimpi yang satu dapat ditafsirkan dengan ribuan bahkan jutaan makna sesuai situasi dan kondisi manusia serta keadaan dunia dari masa hingga masa, ia pun berkembang mengikut perkembangan zaman dan makan… Dari itulah Allah menyebut mimpi dalam al-Qur’an dengan istilah al-Ahadits yang berakar dari kata hadits yang artinya: suatu hal yang baru. Maknanya: mimpi itu berikut tafsirannya tidaklah tetap, melainkan terus berkembang dan membaru dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari manusia ke manusia (dari keadaan ke keadaan lainnya).
Mimpi, baik ataupun buruknya, tidak baik diceritakan kepada semua atau sembarang orang, agar terlepas dari ucapan-ucapan ataupun komentar-komentar yang sekiranya tidak benar dan dapat menggelisahkan. Memanglah tidak semua mimpi mempunyai arti, terkadang sebagian mimpi hanyalah kembang tidur, namun terkadang pula mimpi itu perlu disikapi dengan cukup serius. Dan solusi satu-satunya adalah: mengadu ke ahlinya, bukan ke siapa saja !! bukan pula ke buku Ibnu Sirin ataupun primbon Jawa !!
Kesimpulan dari catatan singkat ini adalah :
- Mimpi adalah salah satu tanda kekuasaan Tuhan karena manusia dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa indra apapun, semua indra tidak aktif. Sama halnya dengan orang yang sudah mati, ia masih dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa bernafas sekalipun.
- Ada mimpi yang sekedar kembang tidur dan ada pula yang mempunyai makna tertentu.
- Mimpi tidak baik diceritakan ke semua atau sembarang orang.
- Memperhatikan perkembangan psikologi manusia dari masa hingga masa, maka untuk menafsirkan mimpi tidak tepat bila hanya merujuk kepada buku-buku para pendahulu.
- Penafsiran mimpi via sms, telpon, surat, televisi, buku atau yang lain adalah metode penafsiaran yang kurang tepat, harus face to face dengan sebab yang sudah diterangkan di atas.
- Untuk mengetahui tafsir mimpi, harus mengadu kepada ahlinya, bukan ke sembarang orang atau ke sembarang kertas.
- Penafsir mimpi yang benar-benar ahli adalah mereka yang ahli al-Qur'an, ahli al-Sunnah dan ahli al-Farasah. Bukan siapa saja, karena akibatnya akan fatal dan hanya menambah gelisah.
- Dan lain-lain.
Terkadang mimpi itu merupakan sebuah isyarat atau petunjuk yang bertujuan mengingatkan atau menggambarkan keadaan ataupun nasib seseorang… dan biasanya petunjuk mimpi itu berlawanan dengan kenyataan, contohnya: mimpi bersetubuh dengan ibu, konon berarti tahun itu ia akan melaksanakan ibadah haji !! dari itu Allah Swt. telah mengaruniai sebagian hamba-hamba-Nya kepandaian dalam membuka tabir mimpi dan mendeteksi makna-makna yang tersirat di balik jendela mimpi. Mereka itu adalah para penafsir mimpi.
Tafsir mimpi adalah salah satu disiplin ilmu yang diajarkan oleh Allah Swt. kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Ilmu tafsir mimpi ini dalam al-Qur’an disebut dengan Ta’wilul-Ahadits… Allah berfirman :
" رب قد آتيتني من الملك وعلمتني من تأويل الأحاديث "
Dengan demikian maka alat sang penafsir untuk menafsirkan mimpi adalah Qur’an, Sunnah dan ada satu lagi alat terpenting, yaitu: al-Farasah !! al-Farasah adalah firasat hati yang tepat… Artinya: seorang penafsir mimpi harus menatap sebuah mimpi dengan tatapan tajam serta memandang orang yang mimpi dengan mata hati yang jujur dan penuh kebijaksanaan. Tidaklah baik bila penafsiran mimpi dilaksanakan via telpon, surat, buku ataupun yang lain. Haruslah face to face !! karena alat terpenting untuk menafsirkan mimpi adalah: al-Farasah sebagai tatapan cahaya Ilahi !! Rasul Saw. bersabda :
" اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله "
Mengapa harus dengan al-Farasah? Kondisi orang yang mimpi perlu diperhatikan dengan baik, sebab boleh saja dua orang atau lebih memimpikan hal atau kejadian yang sama, namun apakah artinya juga sama ?!? Tentu akan berbeda sesuai keadaan masing-masing, di situlah firasat sang penafsir akan difungsikan dan tatapan hatinya yang bersih mulai dimainkan untuk maslahat setiap orang.
Disamping itu juga, penafsiran mimpi itu tidak akan terus menetap dan membeku, ia tidaklah permanen, melainkan mimpi yang satu dapat ditafsirkan dengan ribuan bahkan jutaan makna sesuai situasi dan kondisi manusia serta keadaan dunia dari masa hingga masa, ia pun berkembang mengikut perkembangan zaman dan makan… Dari itulah Allah menyebut mimpi dalam al-Qur’an dengan istilah al-Ahadits yang berakar dari kata hadits yang artinya: suatu hal yang baru. Maknanya: mimpi itu berikut tafsirannya tidaklah tetap, melainkan terus berkembang dan membaru dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dan dari manusia ke manusia (dari keadaan ke keadaan lainnya).
Mimpi, baik ataupun buruknya, tidak baik diceritakan kepada semua atau sembarang orang, agar terlepas dari ucapan-ucapan ataupun komentar-komentar yang sekiranya tidak benar dan dapat menggelisahkan. Memanglah tidak semua mimpi mempunyai arti, terkadang sebagian mimpi hanyalah kembang tidur, namun terkadang pula mimpi itu perlu disikapi dengan cukup serius. Dan solusi satu-satunya adalah: mengadu ke ahlinya, bukan ke siapa saja !! bukan pula ke buku Ibnu Sirin ataupun primbon Jawa !!
Kesimpulan dari catatan singkat ini adalah :
- Mimpi adalah salah satu tanda kekuasaan Tuhan karena manusia dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa indra apapun, semua indra tidak aktif. Sama halnya dengan orang yang sudah mati, ia masih dapat melihat, mendengar dan merasakan tanpa bernafas sekalipun.
- Ada mimpi yang sekedar kembang tidur dan ada pula yang mempunyai makna tertentu.
- Mimpi tidak baik diceritakan ke semua atau sembarang orang.
- Memperhatikan perkembangan psikologi manusia dari masa hingga masa, maka untuk menafsirkan mimpi tidak tepat bila hanya merujuk kepada buku-buku para pendahulu.
- Penafsiran mimpi via sms, telpon, surat, televisi, buku atau yang lain adalah metode penafsiaran yang kurang tepat, harus face to face dengan sebab yang sudah diterangkan di atas.
- Untuk mengetahui tafsir mimpi, harus mengadu kepada ahlinya, bukan ke sembarang orang atau ke sembarang kertas.
- Penafsir mimpi yang benar-benar ahli adalah mereka yang ahli al-Qur'an, ahli al-Sunnah dan ahli al-Farasah. Bukan siapa saja, karena akibatnya akan fatal dan hanya menambah gelisah.
- Dan lain-lain.
ISLAMI
Membincang antara sebuah klaim dan kebenaran, sebenarnya klaim yang mengusung kebenaran atau kebenaranlah yang selanjutnya harus menelorkan beberapa klaim? Agaknya keduanya sama-sama meragukan. Tapi kenyataannya, Islam sebagai ajaran kebenaran kerap terlihat aneh. Ia seolah menjadi agama yang ditelorkan dan dibesarkan dalam sebuah klaim. Sebuah kandang yang setiap kelompok membuatnya, yang setiap golongan menjagokannya, yang siap diadu, berdarah-darah, ambruk, lalu banyak yang bertepuk.
Al-Qur’an sebagai pondasi Islam, adalah ruang kesempurnaan untuk perjalanan wahyu risalah ilahiah. Pada akhir abad keenam di jazirah Arab, antara Makkah dan Madinah, seluruh wahyu itu telah disemprongkan dalam bahasa kesusastraan tertinggi Arab. Karena Rasulullah saw. berdarah biru Quraisy, orang Arab asli, Muhammad bin Abdillah. Terlebih, beliau juga harus menyampaikannya kepada masyarakat Arab, kaum gurun yang memiliki peradaban dan adat istiadat, yang kesehariannya lekat dengan jubah, yang diberi anugrah janggut agar dirawat, dan kaum yang masih jahiliah.
Islam, agama pungkasan sekaligus pamungkas. Pada awal kedatangannya, pilar-pilar peradaban Arab jahiliah yang telah mapan benar-benar terguncang. Sontak, penduduk Arab tercengang, takjub sekaligus resah! Sebab, tiap serat ayatnya adalah mukjizat yang demikian dahsyat. Kesatuan pemahaman tentang konsep Tuhan politheisme yang telah kokoh tidak lama harus roboh. Sekian budaya usang, hukum adat istiadat warisan nenek moyang yang telah lama terserap pun segera menguap.
Ya, Islam yang asing, Islam yang amazing! Pada pucuknya, di negeri awal mula turunnya wahyu itu, Islam berhasil mengangkat bangsa Arab, dari lembah peradaban Arab jahiliah menjadi peradaban tinggi Arab yang Islami.
Celakanya, kekeringan pemahaman terhadap nash yang shahih, kerdilnya pengertian atas identitas Islam, kembali menyebabkan universalisme Islam terpasung, justru ketika nilai-nilainya harus merambat ke beberapa wilayah di luar Arab.
Di Maroko, prasangka khalayak sempat meledak "Orang muslim harus Arabi!, yang Arabi itulah muslim!”, “Jubah yang nyunnah Rasul jubah ala Maroko!" Sampai juga di Asia, ada beberapa muslim yang merasa wah, ketika bisa menunjukan keislamannya dengan ikatan sorban dan jubah, atau menggantungkan di janggutnya yang dipaksakan memanjang, di balik cadar, di semerbak minyak kasturi, di setiap ucapan yang sering terpenuhi huruf hija’iah, pada semua simbol-simbol kultural keberagamaan warga Arab yang diimport, untuk secara tragis memasung nilai-nilai universalisme, kontekstualisme, dan kesakralan Islam. Karena begitulah saat Arabisme menjangkit, yang mengimajinasikan budaya Islam adalah budaya kearab-araban. Hasilnya, Islam terjual murah, Islam dibajak mudah, Islam jatuh sakit.
Padahal Mesir, Saidina Amru bin Ash ra. dalam ekspansinya memang praktis telah sempurna menyepuhkan warna arabisme di bumi kinanah itu. Namun apakah semua penduduk Mesir yang telah menjiwai, bernafaskan Arabi memeluk Islam? Tidak, di sana masih bercokol Arabi nasrani, Arabi yahudi, bahkan Arabi atheis yang tanpa nabi sekalipun!
Menjadi umat Saidina Muhamad bukan berarti harus menjadi kaum Saidina Muhammad, makna kaum berbeda dengan umat. Dr. Ahmad Khalafallah, pemikir Mesir tahun 50-an ini dalam karyanya Urubat al-Islam menguraikan, kaum Muhammad merekalah orang-orang Arab, entah muslim ataupun kafir, sedang umat Muhammad adalah umat muslimin, baik orang Arab maupun bukan. Umat adalah kaum yang taat, layaknya kaumnya nabi Musa, “Wamin qaumi Mûsa ummatun yahduna bil-haqqi wabihi ya’dilun”. Umat Saidina Muhammad, merekalah jama’ah yang kelak akan bersegera mendatangi seruan Rasulullah, "Ummati..ummati..".
Pasalnya, adakah desain pakaian yang Allah khususkan buat umat Islam? Jawabnya: ya, ada!. Itupun hanya pakaian ihram saat menjalankan ibadah haji. Sebuah desain sederhana yang humanis, anti rasis. Bukan kemeja taqwa, sarung, atau jeans. Ketika tawaf, tidak ada (tidak disyari’atkan) kopiah hitam, tidak ada topi koboi, apalagi cadar perempuan gurun.
Mendaftar jadi umat Saidina Muhammad berarti memeluk Islam, baik dengan aksesoris Arab, bercadar, bersarung, berkemeja, berkerudung, berjas, ataupun berdasi. Entah berunta, bersepeda, ataupun bermerci. Sebab semua itu adalah bagian dari ragam produk peradaban manusia sesuai kreatifitas dan tingkat kemajuan pola pikir tiap masing-masing bangsa. Semuanya Islami, jika pantas dipakai umat Islam, tidak menerabas lintasan syar’i.
Arabisme memang sebuah cengkraman. Namun selepasnya, nilai Islam masih bisa saja terkurung dalam kubangan yang lebih besar, di belahan bumi timur. Saat kaum muslim serentak memilih sebuah sikap; ganyang dan kutuk barat! pada kekafirannya, pada peradabannya, pada semuanya. Padahal diakui, keberislaman orang timur banyak berhutang pada penemuan-penemuan barat. Tidak perduli, barat dikutuk seumur bumi dan langit, padahal hembusan ampunan, hidayah Tuhan di bawah hitungan detik dan menit. Klaim berlanjut, “Peradaban barat tidak Islami!”. Kemudian ramai-ramai umat islam menjenguk barat sebagai kutukan, bom dan teror.
Tidak! Bagi seorang ulama’ Islam sejati yang tangguh. Saat keimanannya adalah detak jantungnya. Produk budaya barat tidak pernah ia takutkan. Sebaliknya, keislamannya tertantang untuk hadir sebagai rahmatan lil-alamin, mampu berdialog, dengan hikmah, berusaha menjinakkan peradaban barat yang dipandang masih liar. Lalu menyerap peradaban yang layak dikonsumsi, sebagai nutrisi bangsa timur-Islam, untuk sebuah kebangkitan, mewujudkan bangsa timur-Islam yang lebih maju. Bukan malah keburu congkak, atau gemar melakonkan sosok Ken Arok.
Sebut saja tokoh-tokoh sekaliber al-Afghani (Persia), Muhammad Abduh (Mesir), al-Kawakibi (Syiria), Iqbal (India). Bagi tokoh pembaharu seperti mereka, anugrah kenikmatan spiritualitas Islam yang terkucur di bumi timur, lewat hembusan ayat-ayat al-Qur’an, bukanlah obor untuk memberangus tapal batas kebajikan. Kebaikan yang universal, yang tidak hanya tumbuh di punggung timur, tidak pula hanya di dada barat, ialah kebaikan milik Tuhan, Penguasa barat dan timur, yang berhak menumbuhkannya di manapun. Sebagai ayat-ayat-Nya yang luasnya tanpa ampun. “Nun, wal-qalami wa ma yasthurun”.
Hanya menyembah peradaban masa lampau, bernostalgia dengan masa kejayaannya, atau sebaliknya, membeo, berkiblat ke arah peradaban barat, merupakan faktor dasar kejumudan umat Islam. Karena menyelami bahtera hakekat Islam berarti melipat klaim “Muslim adalah aku”, menggantinya dengan slogan “Aku adalah (juga) muslim”, lalu menyimak baik-baik firman Tuhan, "Bukanlah sebuah kebajikan, kamu berkiblat pada timur ataupun barat”. (Soda)
Al-Qur’an sebagai pondasi Islam, adalah ruang kesempurnaan untuk perjalanan wahyu risalah ilahiah. Pada akhir abad keenam di jazirah Arab, antara Makkah dan Madinah, seluruh wahyu itu telah disemprongkan dalam bahasa kesusastraan tertinggi Arab. Karena Rasulullah saw. berdarah biru Quraisy, orang Arab asli, Muhammad bin Abdillah. Terlebih, beliau juga harus menyampaikannya kepada masyarakat Arab, kaum gurun yang memiliki peradaban dan adat istiadat, yang kesehariannya lekat dengan jubah, yang diberi anugrah janggut agar dirawat, dan kaum yang masih jahiliah.
Islam, agama pungkasan sekaligus pamungkas. Pada awal kedatangannya, pilar-pilar peradaban Arab jahiliah yang telah mapan benar-benar terguncang. Sontak, penduduk Arab tercengang, takjub sekaligus resah! Sebab, tiap serat ayatnya adalah mukjizat yang demikian dahsyat. Kesatuan pemahaman tentang konsep Tuhan politheisme yang telah kokoh tidak lama harus roboh. Sekian budaya usang, hukum adat istiadat warisan nenek moyang yang telah lama terserap pun segera menguap.
Ya, Islam yang asing, Islam yang amazing! Pada pucuknya, di negeri awal mula turunnya wahyu itu, Islam berhasil mengangkat bangsa Arab, dari lembah peradaban Arab jahiliah menjadi peradaban tinggi Arab yang Islami.
Celakanya, kekeringan pemahaman terhadap nash yang shahih, kerdilnya pengertian atas identitas Islam, kembali menyebabkan universalisme Islam terpasung, justru ketika nilai-nilainya harus merambat ke beberapa wilayah di luar Arab.
Di Maroko, prasangka khalayak sempat meledak "Orang muslim harus Arabi!, yang Arabi itulah muslim!”, “Jubah yang nyunnah Rasul jubah ala Maroko!" Sampai juga di Asia, ada beberapa muslim yang merasa wah, ketika bisa menunjukan keislamannya dengan ikatan sorban dan jubah, atau menggantungkan di janggutnya yang dipaksakan memanjang, di balik cadar, di semerbak minyak kasturi, di setiap ucapan yang sering terpenuhi huruf hija’iah, pada semua simbol-simbol kultural keberagamaan warga Arab yang diimport, untuk secara tragis memasung nilai-nilai universalisme, kontekstualisme, dan kesakralan Islam. Karena begitulah saat Arabisme menjangkit, yang mengimajinasikan budaya Islam adalah budaya kearab-araban. Hasilnya, Islam terjual murah, Islam dibajak mudah, Islam jatuh sakit.
Padahal Mesir, Saidina Amru bin Ash ra. dalam ekspansinya memang praktis telah sempurna menyepuhkan warna arabisme di bumi kinanah itu. Namun apakah semua penduduk Mesir yang telah menjiwai, bernafaskan Arabi memeluk Islam? Tidak, di sana masih bercokol Arabi nasrani, Arabi yahudi, bahkan Arabi atheis yang tanpa nabi sekalipun!
Menjadi umat Saidina Muhamad bukan berarti harus menjadi kaum Saidina Muhammad, makna kaum berbeda dengan umat. Dr. Ahmad Khalafallah, pemikir Mesir tahun 50-an ini dalam karyanya Urubat al-Islam menguraikan, kaum Muhammad merekalah orang-orang Arab, entah muslim ataupun kafir, sedang umat Muhammad adalah umat muslimin, baik orang Arab maupun bukan. Umat adalah kaum yang taat, layaknya kaumnya nabi Musa, “Wamin qaumi Mûsa ummatun yahduna bil-haqqi wabihi ya’dilun”. Umat Saidina Muhammad, merekalah jama’ah yang kelak akan bersegera mendatangi seruan Rasulullah, "Ummati..ummati..".
Pasalnya, adakah desain pakaian yang Allah khususkan buat umat Islam? Jawabnya: ya, ada!. Itupun hanya pakaian ihram saat menjalankan ibadah haji. Sebuah desain sederhana yang humanis, anti rasis. Bukan kemeja taqwa, sarung, atau jeans. Ketika tawaf, tidak ada (tidak disyari’atkan) kopiah hitam, tidak ada topi koboi, apalagi cadar perempuan gurun.
Mendaftar jadi umat Saidina Muhammad berarti memeluk Islam, baik dengan aksesoris Arab, bercadar, bersarung, berkemeja, berkerudung, berjas, ataupun berdasi. Entah berunta, bersepeda, ataupun bermerci. Sebab semua itu adalah bagian dari ragam produk peradaban manusia sesuai kreatifitas dan tingkat kemajuan pola pikir tiap masing-masing bangsa. Semuanya Islami, jika pantas dipakai umat Islam, tidak menerabas lintasan syar’i.
Arabisme memang sebuah cengkraman. Namun selepasnya, nilai Islam masih bisa saja terkurung dalam kubangan yang lebih besar, di belahan bumi timur. Saat kaum muslim serentak memilih sebuah sikap; ganyang dan kutuk barat! pada kekafirannya, pada peradabannya, pada semuanya. Padahal diakui, keberislaman orang timur banyak berhutang pada penemuan-penemuan barat. Tidak perduli, barat dikutuk seumur bumi dan langit, padahal hembusan ampunan, hidayah Tuhan di bawah hitungan detik dan menit. Klaim berlanjut, “Peradaban barat tidak Islami!”. Kemudian ramai-ramai umat islam menjenguk barat sebagai kutukan, bom dan teror.
Tidak! Bagi seorang ulama’ Islam sejati yang tangguh. Saat keimanannya adalah detak jantungnya. Produk budaya barat tidak pernah ia takutkan. Sebaliknya, keislamannya tertantang untuk hadir sebagai rahmatan lil-alamin, mampu berdialog, dengan hikmah, berusaha menjinakkan peradaban barat yang dipandang masih liar. Lalu menyerap peradaban yang layak dikonsumsi, sebagai nutrisi bangsa timur-Islam, untuk sebuah kebangkitan, mewujudkan bangsa timur-Islam yang lebih maju. Bukan malah keburu congkak, atau gemar melakonkan sosok Ken Arok.
Sebut saja tokoh-tokoh sekaliber al-Afghani (Persia), Muhammad Abduh (Mesir), al-Kawakibi (Syiria), Iqbal (India). Bagi tokoh pembaharu seperti mereka, anugrah kenikmatan spiritualitas Islam yang terkucur di bumi timur, lewat hembusan ayat-ayat al-Qur’an, bukanlah obor untuk memberangus tapal batas kebajikan. Kebaikan yang universal, yang tidak hanya tumbuh di punggung timur, tidak pula hanya di dada barat, ialah kebaikan milik Tuhan, Penguasa barat dan timur, yang berhak menumbuhkannya di manapun. Sebagai ayat-ayat-Nya yang luasnya tanpa ampun. “Nun, wal-qalami wa ma yasthurun”.
Hanya menyembah peradaban masa lampau, bernostalgia dengan masa kejayaannya, atau sebaliknya, membeo, berkiblat ke arah peradaban barat, merupakan faktor dasar kejumudan umat Islam. Karena menyelami bahtera hakekat Islam berarti melipat klaim “Muslim adalah aku”, menggantinya dengan slogan “Aku adalah (juga) muslim”, lalu menyimak baik-baik firman Tuhan, "Bukanlah sebuah kebajikan, kamu berkiblat pada timur ataupun barat”. (Soda)
BUMI ITU DATAR TIDAK BULAT
Mata sebagai indra penglihatan manusia tak kunjung lepas dari ketertipuan. Apalagi alat-alat (benda-benda mati) yang dibuat oleh manusia itu sendiri.. satelit.. mikroskop.. dan lain sebagainya.. tak selamanya memberi kesimpulan yang tepat.. !!
Melalui pelbagai penelitian akurat, ilmiyah dan islami, telah dinyatakan bahwasanya bumi itu datar dan tidak bulat !! Walau mayoritas umat manusia maupun umat islam menganut keyakinan bahwa bumi itu bulat, namun penulis mengajak para pembaca untuk kembali mengkaji dan meneliti dengan seksama tentang bentuk bumi ini.. bulatkah atau datarkah? Penulis secara pribadi sangat membenarkan dan meyakini tentang kedataran bumi. Di bawah ini akan jelas semuanya dengan izin Allah Swt.
Bumi dihamparkan dan tidak bergerak, kecuali bila ada gempa dan tanah longsor. Keberadaan bumi yang terhampar dan tidak bergerak yang telah diinjak-injak oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lain yang beraneka ragam itu tidak perlu lagi dipertentangkan perwujudannya, karena berita kebenaran mutlaknya berasal dari Allah, dan Allah sendiri yang telah menciptakan bumi ini telah menginformasikan kepada manusia :
- "Aku ciptakan bumi sebagai hamparan agar kalian bisa berjalan dengan tenang dan tidak berguncang di jalan-jalan lebar" (Nuh: 19-20).
- "Dan Allah jadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu bisa berjalan di jalan-jalan yang lebar, dan dipancangkannya di bumi itu gunung menjadi pakunya agar kamu tidak berguncang" (Luqman: 10).
- "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (bukan bulatan) dan gunung-gunung sebagai pakunya (agar tidak bergerak)" (al-Naba': 6-7).
- "Dialah yang telah menjadikan bumi dengan mudah kamu jalani, maka berjalanlah ke segala penjurunya" (al-Mulk: 15).
- "Dan Kami jadikan di bumi itu gunung-gunung yang terpancang untuk mengamankan bumi, dan Kami jadikan pula di bumi itu lembah-lembah menjadi jalan agar mereka mendapat petunjuk" (al-Anbiyaa': 31).
- "Dan Dia memancangkan gunung-gunung di muka bumi agar bumi itu tidak bergoncang dan Dia menjadikan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (untuk mencari rezeki)" (al-Nahl: 15).
- "Kami turunkan hujan dari langit dengan ukuran, lalu Kami simpan di bumi" (al Mu'minuun: 18).
- "Dan Allah meratakan bumi untuk makhluk-Nya" (al-Rahman: 10).
- "Tuhan yang telah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (sebagai tempat tinggalmu) dan langit (benda-benda langit) diperlihara sebagai atap" (al-Baqarah: 22).
- "Dan Dialah yang telah menghamparkan bumi dan diciptakannya gunung-gunung di bumi beserta sungai-sungainya" (al-Ra'd: 3).
- "Tuhan menjadikan bumi jadi hamparanmu, dan dijadikan-Nya jalan-jalan di muka bumi itu untukmu, dan diturunkan-Nya dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis-jenis tumbuh-tumbuhan" (Thaha: 53).
- "Allah yang menjadikan bumi untuk tempat tinggalmu dan dibentangkan-Nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk" (al-Zukhruf: 10).
- "Dan Kami hamparkan bumi itu, Kami dirikan gunung-gunung untuk penenang dan Kami tumbuhkan tumbuhan yang indah dipandang" (Qaf: 7).
- "Dan Allah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan" (Nuh: 19).
Menghamparkan berarti membentangkan dalam keadaan datar atau dengan kata lain: "bumi datar". Di bagian bumi mana saja kita berada, pasti akan kita dapati bentuknya yang berupa hamparan. Tepi bumi berada di tempat terbitnya matahari di sebelah timur dan di tempat tenggelamnya matahari di sebelah barat. Posisi ini telah diperlihatkan Allah kepada Nabi Saw. yang pernah bersabda: "Sungguh Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya". Dan juga telah disaksikan pula oleh Saidina Zul-Qarnain "Akhirnya ia (Zul-Qarnain) sampai di tempat terbitnya matahari, dilihatnya matahari menerangi suatu kaum yang belum berpakaian" (al-Kahfi: 90). "Hingga apabila ia sampai ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam ke dalam laut hitam (warna airnya hitam). Di sana ia bertemu dengan satu umat (yang masih primitif). Kami ilhamkan: "hai Zul-Qarnain! kamu boleh menyiksa mereka atau engkau boleh berbuat baik kepada mereka" (al-Kahfi: 86).
Karena bumi ini bertepi dan berujung di timur dan di barat, di utara dan di selatan, maka pertanyaannya adalah: Mengapa seseorang yang hendak mengelilingi bumi dan mulai berjalan dari suatu tempat ia pasti akan kembali ke tempat itu lagi? bukankah itu bertanda bahwa bumi ini bulat? Jawaban kita adalah: Bahwasanya di setiap ujung dan tepi bumi itu mengandung kekuatan luar biasa yang mana membuat kita dapat menembus kembali tepi lainnya, persis sebagaimana permainan ular (snake) yang ada di HP-HP, dan Tuhan maha mampu dan kuasa atas segala-galanya !!
Bumi juga dihamparkan tidak berarti rata tanpa bejolan-bejolan. Gunung-gunung, bukit-bukit adalah merupakan benjolan yang ada di permukaan bumi. Kalau saja Allah menciptakan bumi bulat, tentunya Dia tidak akan memerintahkan berjalan ke seluruh penjurunya dan Rasulullah Saw. tidak akan bisa melihat timur dan barat.
Bulatan bumi yang berputar pada porosnya sekaligus mengelilingi matahari menurut teori yang selama ratusan tahun dianut oleh umat manusia, akan menyebabkan mereka tidak mengetahui timur dan baratnya sekaligus penjurunya, baik mereka berada di dalam maupun di permukaan bumi, karena bumi sedang dalam keadaan berputar terus.
Semua orang terpelajar mengetahui sifat air yang datar. Bila ada daerah yang rendah, maka ia akan mengalir ke daerah yang rendah itu. Bila diamati dengan teliti, maka air lautan akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jika bumi bulat bisa dipastikan air lautan akan habis sejak dicipta pada awal ciptaan-Nya ke daerah bebas di alam tanpa batas, sedang air hujan dari langit tidak akan jatuh tepat pada permukaan bumi karena ia bulat.
Nabi Adam yang diperintahkan turun dari surga sebagai khalifah di bumi, bila buminya bulat dan berputar pada porosnya, pasti kaki Nabi Adam akan dihantam oleh benjolan yang ada di permukaannya dan pasti beliau akan meminta kepada Allah agar buminya dihamparkan dan tidak bergerak kemana-mana untuk memudahkan ia turun dari surga ke permukaan bumi dan beliau orang yang pertama mendiami bumi ini. Ia tidak pernah mengatakan bahwa bumi bulat dan berputar pada porosnya, demikian juga para nabi-nabi terdahulu termasuk Rasulullah Saw. tidak pernah mengatakan bumi bulat dan berputar pada porosnya.
Di hamparan bumi terdapat Ka'bah atau Baitullah. Baitullah adalah Rumah Allah. Allah yang menciptakan bumi ini, tidak akan menjadikan rumah tempat ibadah ini diputar-putar sekaligus diajak berkeliling memutari matahari ciptaan-Nya yang akan mengubah posisinya yang ditetapkan tegak lurus dengan Baitul-Ma'mur yang juga merupakan tempat ibadah bagi para malaikat.
Allah berfirman: "Dan bumi Allah itu luas" (al-Zumar: 10). Diluaskan jarak pendatarannya oleh Allah, sehingga tidak seorangpun kuasa untuk menjelajahi ke seluruh daerahnya yang terpencil di beberapa sudut di bumi yang dihamparkan itu, kecuali dengan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada penjelajah tersebut.
Di dalam kitab suci-Nya Allah berulang kali menyebutkan masalah hamparan bumi ini, agar kita semua memikirkan dan mengadakan penelitian tentang keajaiban-keajaiban di hamparan bumi Allah ini yang hasilnya bisa disampaikan kepada umat.
Coba perhatikan dengan seksama di permukaan bumi ini. Ia tempat berdiam bagi segala makhluk yang hidup, sedang di dalamnya merupakan tempat peristirahatan bagi yang telah meninggal dunia, disamping beberapa macam hasil tambang yang ada di dalamnya.
Allah berfirman: "Dan bumi Kami hamparkan. Maka sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami" (al-Dzariyat: 48). Dengan dihamparkan bumi milik Allah ini, maka manusia dan makhluk lainnya dapat mendiaminya, karena manusia dan hewan sangat membutuhkan tempat untuk menetap dan membutuhkan makanan. Dengan demikian maka dapat dipastikan bahwa Allah menjadikan seluruh daratan bumi sebagai hamparan agar mudah ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan untuk makanan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk lainnya. Selain itu juga sangat dibutuhkan untuk berkumpulnya manusia yang hidup dan yang mati. "Bukankah Kami menjadikan bumi tempat berkumpul bagi semua orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang sudah mati" (al-Mursalat: 25-26).
Hamparan bumi dapat juga dipergunakan untuk jalan-jalan, termasuk juga jalan kereta api yang tidak mungkin bisa berjalan menanjak ke atas ataupun menukik ke bawah. Juga sebagai tempat menetap yang ideal agar dapat melestarikan keturunan baik oleh manusia ataupun bagi hewan plus tumbuh-tumbuhan yang sangat diperlukan manusia dan makhluk lainnya. Disamping itu semua, banyak juga manfaat yang dapat dinikmati oleh manusia dari hamparan bumi ini. "Dan Kami ciptakan besi yang mempunyai kekuatan yang sangat hebat dan banyak manfaatnya bagi manusia" (al-Hadid: 25). "Dan gunung-gunung dipancangkan" (al-Nazi'at: 32). "Dan mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah, untuk didiami dengan aman" (al-Hijr: 82).
Imam Ghazali berkata: "Seandainya bumi ini bergetar dan bergerak, maka semua manusia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan dengan teliti, baik yang menyangkut tumbuh-tumbuhan maupun industri. Perhatikan hal itu pada gempa-gempa yang sering kali menimpa manusia dan memberikan perasaan takut bagi mereka agar bertaqwa kepada Allah".
Bagi para malaikat pemikul arsyi, kedua kaki mereka tertancap di bumi yang paling bawah. Apakah kaki-kaki mereka diputar-putar dan diajak berkeliling memutari matahari tanpa henti hingga kaki-kaki mereka terpelintir? Coba pikirkan dengan pikiran sehat.
Rasulullah Saw. mengatakan: "Keliling bumi sejauh 2000 tahun perjalanan". Bila kita ingin mengelilingi bumi pada pinggir-pinggir pantai baik pinggir-pinggir benua maupun pinggir-pinggir pulau, maka kita harus mempersiapkan umur selama 2000 tahun. Sedang arti perjalanan di dalam sabda itu adalah menggunakan kendaraan. Kendaraan yang paling diandalkan pada waktu Nabi Saw. adalah kuda yang larinya tercepat. Andaikata kita berjalan kaki tentu akan memerlukan waktu lebih dari 2000 tahun perjalanan.
Allah berfirman: "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit-langit dan bumi dahulunya adalah satu kesatuan, kemudian keduanya Kami pisahkan" (al-Anbiya': 30). Allah juga berfirman: "Dan sesudah itu Dia menghamparkan bumi" (al-Nazi'at: 30). Setelah 7 langit dan bumi berlapis 7 dipisahkan, selanjutnya bumi-Nya dihamparkan. Terlihat oleh Allah satu goncangan keras di bumi yang telah dihamparkan. Maka Allah menciptakan gunung-gunung sebagai paku agar bumi menjadi tenang dan tidak bergerak lagi. Ilmu pengetahuan menetapkan bahwa paku-paku gunung-gunung seperti akar-akar yang menghunjam jauh ke dalam perut bumi. "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasaknya" (al-Naba': 6-7).
Bukit Qaf yang dicipta oleh Allah dari jamrud yang hijau (sehingga warnanya berpengaruh terhadap warna biru langit dunia yang sering dan selalu kita saksikan) adalah bukit yang mengelilingi ke segenap penjuru pada urat bumi agar bumi tidak bergerak bergoncang dan ia dijaga oleh satu malaikat yang besar, kekar dan kuat.
Pada suatu hari Saidina Iskandar Zul-Qarnain naik ke atas bukit Qaf dan bertanya: "Hai Jabal Qaaf, di bawahmu ada sejumlah bukit-bukit kecil, coba ceritakan kepadaku kekuasaan Allah yang demikian itu", jawab bukit Qaaf: "Di balik saya ada bumi yang berjarak 500 tahun perjalanan ditambah pula oleh Allah yang memiliki kekuasaan yang sangat besar yakni 500 buah bukit yang dijadikan dari air yang dibekukan, bukan es atau salju. Dengan air yang dibekukan dimaksudkan sebagai daya tahan terhadap lapisan-lapisan bumi agar tidak habis hancur terbakar oleh kedahsyatan ganasnya api neraka yang ada di bawah lapisan bumi yang terbawah". "Dan dipancangkan-Nya di bumi itu gunung menjadi pasaknya agar kamu tidak berguncang" (Luqman: 10). "Dan bersegeralah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu serta mendapatkan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (Ali Imran: 133). Seluas langit dan bumi memberikan arti dua kali lipat. Langit berpasangan dengan bumi, matahari dengan bulan, siang dengan malam. "Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan" (Yasin: 36). Kita dipastikan mengerti maksud berpasangan itu bagaimana. Tentunya luas, panjang, lebar dan besarnya adalah sama. Kalau tidak sama, orang jawa menyebutnya "Gitang" (pincang). "Sesungguhnya Allah telah menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula" (al-Thalaq: 12).
Sewaktu Saidina Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi Saw.: "Dengan apa bumi ini bisa tenang?", jawab Nabi Saw.: "Dengan beberapa gunung", pertanyaan berikutnya: "Dengan apa gunung-gunung itu dikokohkan?", jawab Nabi Saw.: "Dengan gunung Qaf yang dibuat dari zamrud hijau dan birunya langit", setelah itu ditanya lagi: "Berapa jarak tingginya dari bumi ke langit dunia?", jawab Nabi Saw.: "500 tahun perjalanan". Pertanyaan selanjutnya tentang jarak antara perjalanan kiri dan kanannya (utara-selatan) dari titik tengah? jawab Nabi Saw.: "200 tahun perjalanan" dan ketika ditanyakan tentang penghuni bumi yang berlapis tujuh itu. Nabi Saw. menyebutkan: "Penghuni lapisan ketujuh adalah para malaikat, penghuni lapisan keenam adalah Iblis beserta bala tentaranya, penghuni lapisan kelima adalah setan, penghuni lapisan keempat adalah ular, penghuni lapisan ketiga adalah kalajengking, penghuni lapisan kedua adalah jin, dan penghuni lapisan pertama adalah manusia". Allah berfirman: "Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang mendampingi" (al-Ra'd: 4). Berkaitan dengan ayat ini, Nabi Saw. selanjutnya menerangkan bahwa di belakang gunung Qaf ada +70 bumi dari misik (kasturi), +70 bumi dari emas, +70 bumi dari besi, +70 bumi dari Anbar, +70 bumi dari kapur. Di belakang ini semua terdapat alam malaikat. Tidak ada satu manusia-pun yang mengetahui jumlah para malaikat ini kecuali Allah, dan mereka bertasbih dengan kalimat: "La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah".
Dalam masalah bumi ini, Saidnuna Ibnu Abbas Ra. mengatakan: "Bahwasanya tiap-tiap bumi, sebagian dari padanya seperti bumi kita ini dan di dalamnya terdapat alam seperti alam kita".
Nabi Saw. bersabda: "Hai Aisyah! di alam yang tidak nampak ini, terdapat hujan, mendung, matahari dan bulan. Tidak ada yang mengetahui kecuali kekasih Allah dan orang-orang yang baik".
Hikmah yang dapat diambil dari tanya-jawab antara Nabi Saw. dengan Saidina Abdullah bin Salam, seorang yahudi yang telah masuk Islam berkat keterangan-keterangan yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Di antaranya dia membenarkan jawaban Nabi Saw. atas pertanyaannya antara lain: "Jarak tinggi bumi ke langit dunia adalah 500 tahun perjalanan dan jarak perjalanan kiri dan kanannya sejauh 200 tahun perjalanan dari titik bumi". Dari angka-angka ini dapat dihitung luasnya bumi dengan menggunakan rumus phitagoras sehingga dapat diperoleh luas bumi: panjang x lebar = 75.293.183,232 x 20.390.400 = 1.535.258.123.370.000 km^2.
Nabi Saw. bersabda: "Titik tengah bumi adalah Ka'bah". Dihitung dari Ka'bah yang merupakan titik pusatnya bumi yang posisinya tegak lurus dengan Baitul-Ma'mur, lalu dari Ka'bah ditarik garis tegak lurus (vertikal) ke titik langit dunia di Baitul-Izzah, kemudian dari titik Ka'bah ditarik garis datar (horizontal) ke arah utara dan selatan bumi.
Hitungan di atas dilihat dari sudut pandang apabila hamparan bumi berbentuk persegi panjang dengan perkiraan kecepatan maksimum yang dapat ditempuh oleh manusia yang sedang berjalan adalah 6 km/jam. Ini berarti besar kecilnya perhitungan luas bumi bergantung pada kecepatan perjalanan yang dapat ditempuh oleh manusia. Namun kenyataannya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang. Demikian juga apabila bumi berbentuk bulat, ia dapat dihitung pula secara matematis, sedang haqiqinya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang apalagi bulat.
Nabi Saw. bersabda: "Keliling bumi 2000 tahun perjalanan" Sabda ini tidak bisa diperkilometerkan dengan pedoman hitungan seperti di atas, yang pada akhirnya merupakan bentuk teori semata, padahal haqiqinya bumi dihamparkan.
Keadaan bumi dihamparkan bukanlah kiasan kata, ia adalah haqiqi yang mutlak kebenarannya.
Al-Qur'an telah memperjelas dengan sejelas-jelasnya tentang dihamparkannya bumi secara haqiqi dengan ayat-ayat yang difirmankan langsung dari Allah yang menciptakannya. Sebagian dari ayat-ayat itu telah ditulis di atas dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dicipta setelah Allah menciptakan langit dan bumi, karena sang hamba tidak dihadirkan pada waktu menciptakan langit dan bumi yang proses penciptaannya berjalan selama enam hari dari hari Ahad hingga hari Jum'at, maka teori yang dikemukakan akan hanya sekedar teori saja.
Walaupun Allah lebih dari mampu untuk menciptakan langit dan bumi dalam waktu sekejap (dengan Kun-Nya), namun Allah tidak hendak berbuat demikian dengan tujuan agar manusia ciptaan-Nya itu dapat mengambil hikmah dari proses penciptaan yang berjalan hanya dalam enam hari itu. "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas arsyi" (al-Furqan: 59).
Enam hari mulai dari Ahad hingga hari Jum'at. Hari-hari ini diperuntukkan oleh Allah pada hari-hari di dunia bagi manusia. Rincian dari hari-hari itu :
- "Maka Dia meneruskan menciptakan langit yang masih berupa dukhan, lalu diperintahkannya kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu berdua memenuhi perintah-Ku dengan senang hati atau terpaksa, maka keduanya menjawab: 'Kami datang dengan rela" (Fushshilat: 11).
Dukhan ini bergelombang dan bergeraknya tumpuk tindih air yang ada di bawah arsyi karena takut kepada Allah sampai hari kiamat. Dukhan ini menimbulkan kabut, buih dan ombak dan tentunya banyak unsur- unsur yang dijadikan bahan-bahan bagi semua ciptaan-Nya yang jumlahnya tidak mungkin bisa diketahui oleh manusia kecuali hanya Allah Sendiri dengan ke-Esaan-Nya.
- Sifat kabut yang dingin dan beku dijadikan langit-langit dalam dua hari, yakni hari Kamis hingga Jum'at. "Maka Dia ciptakan tujuh langit dalam dua hari" (Fushshilat: 12).
- Buihnya dijadikan bumi dalam dua hari, yakni hari Ahad hingga Senin. "Ketahuilah! Pantaskah kamu menyangkal kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari" (Fushshilat: 9).
- Ombaknya dijadikan gunung-gunung, bukit-bukit dan berbagai makanan bagi makhluk-makhluk ciptaan-Nya. "Dan Dia menciptakan gunung (untuk mengokohkan bumi) dan diberinya keberkatan di bumi itu, serta ditentukannya makanan penghuninya dalam empat hari" (Fushshilat: 10).
Dalam ayat tersebut disebutkan empat hari, yakni dua hari dari hari Ahad sampai Senin untuk bumi sebagaimana disebutkan di ayat sebelumnya (sambungan) yang kemudian dilanjutkan pada hari Selasa sampai dengan hari Rabu untuk gunung-gunung, bukit-bukit dan makanan.
Allah berfirman: "Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui" (al-Nahl: 43). Allah juga berfirman: "Maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia" (al-Furqan: 59). Oleh karena itu bila anda kurang yakin dengan kedataran bumi, maka silahkan bertanya kepada ahli dzikir dan orang-orang yang lebih tahu tentang Allah, ilmu-ilmu-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya. Kalau belum yakin juga, tanyakan saja langsung kepada yang menciptakan langit dan bumi ini !!
Melalui pelbagai penelitian akurat, ilmiyah dan islami, telah dinyatakan bahwasanya bumi itu datar dan tidak bulat !! Walau mayoritas umat manusia maupun umat islam menganut keyakinan bahwa bumi itu bulat, namun penulis mengajak para pembaca untuk kembali mengkaji dan meneliti dengan seksama tentang bentuk bumi ini.. bulatkah atau datarkah? Penulis secara pribadi sangat membenarkan dan meyakini tentang kedataran bumi. Di bawah ini akan jelas semuanya dengan izin Allah Swt.
Bumi dihamparkan dan tidak bergerak, kecuali bila ada gempa dan tanah longsor. Keberadaan bumi yang terhampar dan tidak bergerak yang telah diinjak-injak oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lain yang beraneka ragam itu tidak perlu lagi dipertentangkan perwujudannya, karena berita kebenaran mutlaknya berasal dari Allah, dan Allah sendiri yang telah menciptakan bumi ini telah menginformasikan kepada manusia :
- "Aku ciptakan bumi sebagai hamparan agar kalian bisa berjalan dengan tenang dan tidak berguncang di jalan-jalan lebar" (Nuh: 19-20).
- "Dan Allah jadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu bisa berjalan di jalan-jalan yang lebar, dan dipancangkannya di bumi itu gunung menjadi pakunya agar kamu tidak berguncang" (Luqman: 10).
- "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan (bukan bulatan) dan gunung-gunung sebagai pakunya (agar tidak bergerak)" (al-Naba': 6-7).
- "Dialah yang telah menjadikan bumi dengan mudah kamu jalani, maka berjalanlah ke segala penjurunya" (al-Mulk: 15).
- "Dan Kami jadikan di bumi itu gunung-gunung yang terpancang untuk mengamankan bumi, dan Kami jadikan pula di bumi itu lembah-lembah menjadi jalan agar mereka mendapat petunjuk" (al-Anbiyaa': 31).
- "Dan Dia memancangkan gunung-gunung di muka bumi agar bumi itu tidak bergoncang dan Dia menjadikan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk (untuk mencari rezeki)" (al-Nahl: 15).
- "Kami turunkan hujan dari langit dengan ukuran, lalu Kami simpan di bumi" (al Mu'minuun: 18).
- "Dan Allah meratakan bumi untuk makhluk-Nya" (al-Rahman: 10).
- "Tuhan yang telah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan (sebagai tempat tinggalmu) dan langit (benda-benda langit) diperlihara sebagai atap" (al-Baqarah: 22).
- "Dan Dialah yang telah menghamparkan bumi dan diciptakannya gunung-gunung di bumi beserta sungai-sungainya" (al-Ra'd: 3).
- "Tuhan menjadikan bumi jadi hamparanmu, dan dijadikan-Nya jalan-jalan di muka bumi itu untukmu, dan diturunkan-Nya dari langit air hujan, maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berbagai jenis-jenis tumbuh-tumbuhan" (Thaha: 53).
- "Allah yang menjadikan bumi untuk tempat tinggalmu dan dibentangkan-Nya jalan-jalan supaya kamu mendapat petunjuk" (al-Zukhruf: 10).
- "Dan Kami hamparkan bumi itu, Kami dirikan gunung-gunung untuk penenang dan Kami tumbuhkan tumbuhan yang indah dipandang" (Qaf: 7).
- "Dan Allah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan" (Nuh: 19).
Menghamparkan berarti membentangkan dalam keadaan datar atau dengan kata lain: "bumi datar". Di bagian bumi mana saja kita berada, pasti akan kita dapati bentuknya yang berupa hamparan. Tepi bumi berada di tempat terbitnya matahari di sebelah timur dan di tempat tenggelamnya matahari di sebelah barat. Posisi ini telah diperlihatkan Allah kepada Nabi Saw. yang pernah bersabda: "Sungguh Allah telah memperlihatkan bumi kepadaku, lalu aku melihat timur dan baratnya". Dan juga telah disaksikan pula oleh Saidina Zul-Qarnain "Akhirnya ia (Zul-Qarnain) sampai di tempat terbitnya matahari, dilihatnya matahari menerangi suatu kaum yang belum berpakaian" (al-Kahfi: 90). "Hingga apabila ia sampai ke tempat terbenamnya matahari, ia melihat matahari terbenam ke dalam laut hitam (warna airnya hitam). Di sana ia bertemu dengan satu umat (yang masih primitif). Kami ilhamkan: "hai Zul-Qarnain! kamu boleh menyiksa mereka atau engkau boleh berbuat baik kepada mereka" (al-Kahfi: 86).
Karena bumi ini bertepi dan berujung di timur dan di barat, di utara dan di selatan, maka pertanyaannya adalah: Mengapa seseorang yang hendak mengelilingi bumi dan mulai berjalan dari suatu tempat ia pasti akan kembali ke tempat itu lagi? bukankah itu bertanda bahwa bumi ini bulat? Jawaban kita adalah: Bahwasanya di setiap ujung dan tepi bumi itu mengandung kekuatan luar biasa yang mana membuat kita dapat menembus kembali tepi lainnya, persis sebagaimana permainan ular (snake) yang ada di HP-HP, dan Tuhan maha mampu dan kuasa atas segala-galanya !!
Bumi juga dihamparkan tidak berarti rata tanpa bejolan-bejolan. Gunung-gunung, bukit-bukit adalah merupakan benjolan yang ada di permukaan bumi. Kalau saja Allah menciptakan bumi bulat, tentunya Dia tidak akan memerintahkan berjalan ke seluruh penjurunya dan Rasulullah Saw. tidak akan bisa melihat timur dan barat.
Bulatan bumi yang berputar pada porosnya sekaligus mengelilingi matahari menurut teori yang selama ratusan tahun dianut oleh umat manusia, akan menyebabkan mereka tidak mengetahui timur dan baratnya sekaligus penjurunya, baik mereka berada di dalam maupun di permukaan bumi, karena bumi sedang dalam keadaan berputar terus.
Semua orang terpelajar mengetahui sifat air yang datar. Bila ada daerah yang rendah, maka ia akan mengalir ke daerah yang rendah itu. Bila diamati dengan teliti, maka air lautan akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jika bumi bulat bisa dipastikan air lautan akan habis sejak dicipta pada awal ciptaan-Nya ke daerah bebas di alam tanpa batas, sedang air hujan dari langit tidak akan jatuh tepat pada permukaan bumi karena ia bulat.
Nabi Adam yang diperintahkan turun dari surga sebagai khalifah di bumi, bila buminya bulat dan berputar pada porosnya, pasti kaki Nabi Adam akan dihantam oleh benjolan yang ada di permukaannya dan pasti beliau akan meminta kepada Allah agar buminya dihamparkan dan tidak bergerak kemana-mana untuk memudahkan ia turun dari surga ke permukaan bumi dan beliau orang yang pertama mendiami bumi ini. Ia tidak pernah mengatakan bahwa bumi bulat dan berputar pada porosnya, demikian juga para nabi-nabi terdahulu termasuk Rasulullah Saw. tidak pernah mengatakan bumi bulat dan berputar pada porosnya.
Di hamparan bumi terdapat Ka'bah atau Baitullah. Baitullah adalah Rumah Allah. Allah yang menciptakan bumi ini, tidak akan menjadikan rumah tempat ibadah ini diputar-putar sekaligus diajak berkeliling memutari matahari ciptaan-Nya yang akan mengubah posisinya yang ditetapkan tegak lurus dengan Baitul-Ma'mur yang juga merupakan tempat ibadah bagi para malaikat.
Allah berfirman: "Dan bumi Allah itu luas" (al-Zumar: 10). Diluaskan jarak pendatarannya oleh Allah, sehingga tidak seorangpun kuasa untuk menjelajahi ke seluruh daerahnya yang terpencil di beberapa sudut di bumi yang dihamparkan itu, kecuali dengan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada penjelajah tersebut.
Di dalam kitab suci-Nya Allah berulang kali menyebutkan masalah hamparan bumi ini, agar kita semua memikirkan dan mengadakan penelitian tentang keajaiban-keajaiban di hamparan bumi Allah ini yang hasilnya bisa disampaikan kepada umat.
Coba perhatikan dengan seksama di permukaan bumi ini. Ia tempat berdiam bagi segala makhluk yang hidup, sedang di dalamnya merupakan tempat peristirahatan bagi yang telah meninggal dunia, disamping beberapa macam hasil tambang yang ada di dalamnya.
Allah berfirman: "Dan bumi Kami hamparkan. Maka sebaik-baik yang menghamparkan adalah Kami" (al-Dzariyat: 48). Dengan dihamparkan bumi milik Allah ini, maka manusia dan makhluk lainnya dapat mendiaminya, karena manusia dan hewan sangat membutuhkan tempat untuk menetap dan membutuhkan makanan. Dengan demikian maka dapat dipastikan bahwa Allah menjadikan seluruh daratan bumi sebagai hamparan agar mudah ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan untuk makanan yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk lainnya. Selain itu juga sangat dibutuhkan untuk berkumpulnya manusia yang hidup dan yang mati. "Bukankah Kami menjadikan bumi tempat berkumpul bagi semua orang-orang yang masih hidup dan orang-orang yang sudah mati" (al-Mursalat: 25-26).
Hamparan bumi dapat juga dipergunakan untuk jalan-jalan, termasuk juga jalan kereta api yang tidak mungkin bisa berjalan menanjak ke atas ataupun menukik ke bawah. Juga sebagai tempat menetap yang ideal agar dapat melestarikan keturunan baik oleh manusia ataupun bagi hewan plus tumbuh-tumbuhan yang sangat diperlukan manusia dan makhluk lainnya. Disamping itu semua, banyak juga manfaat yang dapat dinikmati oleh manusia dari hamparan bumi ini. "Dan Kami ciptakan besi yang mempunyai kekuatan yang sangat hebat dan banyak manfaatnya bagi manusia" (al-Hadid: 25). "Dan gunung-gunung dipancangkan" (al-Nazi'at: 32). "Dan mereka memahat gunung-gunung menjadi rumah, untuk didiami dengan aman" (al-Hijr: 82).
Imam Ghazali berkata: "Seandainya bumi ini bergetar dan bergerak, maka semua manusia tidak akan dapat mengerjakan pekerjaan dengan teliti, baik yang menyangkut tumbuh-tumbuhan maupun industri. Perhatikan hal itu pada gempa-gempa yang sering kali menimpa manusia dan memberikan perasaan takut bagi mereka agar bertaqwa kepada Allah".
Bagi para malaikat pemikul arsyi, kedua kaki mereka tertancap di bumi yang paling bawah. Apakah kaki-kaki mereka diputar-putar dan diajak berkeliling memutari matahari tanpa henti hingga kaki-kaki mereka terpelintir? Coba pikirkan dengan pikiran sehat.
Rasulullah Saw. mengatakan: "Keliling bumi sejauh 2000 tahun perjalanan". Bila kita ingin mengelilingi bumi pada pinggir-pinggir pantai baik pinggir-pinggir benua maupun pinggir-pinggir pulau, maka kita harus mempersiapkan umur selama 2000 tahun. Sedang arti perjalanan di dalam sabda itu adalah menggunakan kendaraan. Kendaraan yang paling diandalkan pada waktu Nabi Saw. adalah kuda yang larinya tercepat. Andaikata kita berjalan kaki tentu akan memerlukan waktu lebih dari 2000 tahun perjalanan.
Allah berfirman: "Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit-langit dan bumi dahulunya adalah satu kesatuan, kemudian keduanya Kami pisahkan" (al-Anbiya': 30). Allah juga berfirman: "Dan sesudah itu Dia menghamparkan bumi" (al-Nazi'at: 30). Setelah 7 langit dan bumi berlapis 7 dipisahkan, selanjutnya bumi-Nya dihamparkan. Terlihat oleh Allah satu goncangan keras di bumi yang telah dihamparkan. Maka Allah menciptakan gunung-gunung sebagai paku agar bumi menjadi tenang dan tidak bergerak lagi. Ilmu pengetahuan menetapkan bahwa paku-paku gunung-gunung seperti akar-akar yang menghunjam jauh ke dalam perut bumi. "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasaknya" (al-Naba': 6-7).
Bukit Qaf yang dicipta oleh Allah dari jamrud yang hijau (sehingga warnanya berpengaruh terhadap warna biru langit dunia yang sering dan selalu kita saksikan) adalah bukit yang mengelilingi ke segenap penjuru pada urat bumi agar bumi tidak bergerak bergoncang dan ia dijaga oleh satu malaikat yang besar, kekar dan kuat.
Pada suatu hari Saidina Iskandar Zul-Qarnain naik ke atas bukit Qaf dan bertanya: "Hai Jabal Qaaf, di bawahmu ada sejumlah bukit-bukit kecil, coba ceritakan kepadaku kekuasaan Allah yang demikian itu", jawab bukit Qaaf: "Di balik saya ada bumi yang berjarak 500 tahun perjalanan ditambah pula oleh Allah yang memiliki kekuasaan yang sangat besar yakni 500 buah bukit yang dijadikan dari air yang dibekukan, bukan es atau salju. Dengan air yang dibekukan dimaksudkan sebagai daya tahan terhadap lapisan-lapisan bumi agar tidak habis hancur terbakar oleh kedahsyatan ganasnya api neraka yang ada di bawah lapisan bumi yang terbawah". "Dan dipancangkan-Nya di bumi itu gunung menjadi pasaknya agar kamu tidak berguncang" (Luqman: 10). "Dan bersegeralah untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu serta mendapatkan surga seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa" (Ali Imran: 133). Seluas langit dan bumi memberikan arti dua kali lipat. Langit berpasangan dengan bumi, matahari dengan bulan, siang dengan malam. "Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan" (Yasin: 36). Kita dipastikan mengerti maksud berpasangan itu bagaimana. Tentunya luas, panjang, lebar dan besarnya adalah sama. Kalau tidak sama, orang jawa menyebutnya "Gitang" (pincang). "Sesungguhnya Allah telah menciptakan tujuh langit dan bumi seperti itu pula" (al-Thalaq: 12).
Sewaktu Saidina Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi Saw.: "Dengan apa bumi ini bisa tenang?", jawab Nabi Saw.: "Dengan beberapa gunung", pertanyaan berikutnya: "Dengan apa gunung-gunung itu dikokohkan?", jawab Nabi Saw.: "Dengan gunung Qaf yang dibuat dari zamrud hijau dan birunya langit", setelah itu ditanya lagi: "Berapa jarak tingginya dari bumi ke langit dunia?", jawab Nabi Saw.: "500 tahun perjalanan". Pertanyaan selanjutnya tentang jarak antara perjalanan kiri dan kanannya (utara-selatan) dari titik tengah? jawab Nabi Saw.: "200 tahun perjalanan" dan ketika ditanyakan tentang penghuni bumi yang berlapis tujuh itu. Nabi Saw. menyebutkan: "Penghuni lapisan ketujuh adalah para malaikat, penghuni lapisan keenam adalah Iblis beserta bala tentaranya, penghuni lapisan kelima adalah setan, penghuni lapisan keempat adalah ular, penghuni lapisan ketiga adalah kalajengking, penghuni lapisan kedua adalah jin, dan penghuni lapisan pertama adalah manusia". Allah berfirman: "Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang mendampingi" (al-Ra'd: 4). Berkaitan dengan ayat ini, Nabi Saw. selanjutnya menerangkan bahwa di belakang gunung Qaf ada +70 bumi dari misik (kasturi), +70 bumi dari emas, +70 bumi dari besi, +70 bumi dari Anbar, +70 bumi dari kapur. Di belakang ini semua terdapat alam malaikat. Tidak ada satu manusia-pun yang mengetahui jumlah para malaikat ini kecuali Allah, dan mereka bertasbih dengan kalimat: "La Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah".
Dalam masalah bumi ini, Saidnuna Ibnu Abbas Ra. mengatakan: "Bahwasanya tiap-tiap bumi, sebagian dari padanya seperti bumi kita ini dan di dalamnya terdapat alam seperti alam kita".
Nabi Saw. bersabda: "Hai Aisyah! di alam yang tidak nampak ini, terdapat hujan, mendung, matahari dan bulan. Tidak ada yang mengetahui kecuali kekasih Allah dan orang-orang yang baik".
Hikmah yang dapat diambil dari tanya-jawab antara Nabi Saw. dengan Saidina Abdullah bin Salam, seorang yahudi yang telah masuk Islam berkat keterangan-keterangan yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Di antaranya dia membenarkan jawaban Nabi Saw. atas pertanyaannya antara lain: "Jarak tinggi bumi ke langit dunia adalah 500 tahun perjalanan dan jarak perjalanan kiri dan kanannya sejauh 200 tahun perjalanan dari titik bumi". Dari angka-angka ini dapat dihitung luasnya bumi dengan menggunakan rumus phitagoras sehingga dapat diperoleh luas bumi: panjang x lebar = 75.293.183,232 x 20.390.400 = 1.535.258.123.370.000 km^2.
Nabi Saw. bersabda: "Titik tengah bumi adalah Ka'bah". Dihitung dari Ka'bah yang merupakan titik pusatnya bumi yang posisinya tegak lurus dengan Baitul-Ma'mur, lalu dari Ka'bah ditarik garis tegak lurus (vertikal) ke titik langit dunia di Baitul-Izzah, kemudian dari titik Ka'bah ditarik garis datar (horizontal) ke arah utara dan selatan bumi.
Hitungan di atas dilihat dari sudut pandang apabila hamparan bumi berbentuk persegi panjang dengan perkiraan kecepatan maksimum yang dapat ditempuh oleh manusia yang sedang berjalan adalah 6 km/jam. Ini berarti besar kecilnya perhitungan luas bumi bergantung pada kecepatan perjalanan yang dapat ditempuh oleh manusia. Namun kenyataannya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang. Demikian juga apabila bumi berbentuk bulat, ia dapat dihitung pula secara matematis, sedang haqiqinya hamparan bumi tidaklah berbentuk persegi panjang apalagi bulat.
Nabi Saw. bersabda: "Keliling bumi 2000 tahun perjalanan" Sabda ini tidak bisa diperkilometerkan dengan pedoman hitungan seperti di atas, yang pada akhirnya merupakan bentuk teori semata, padahal haqiqinya bumi dihamparkan.
Keadaan bumi dihamparkan bukanlah kiasan kata, ia adalah haqiqi yang mutlak kebenarannya.
Al-Qur'an telah memperjelas dengan sejelas-jelasnya tentang dihamparkannya bumi secara haqiqi dengan ayat-ayat yang difirmankan langsung dari Allah yang menciptakannya. Sebagian dari ayat-ayat itu telah ditulis di atas dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh siapapun dari hamba-hamba-Nya yang dicipta setelah Allah menciptakan langit dan bumi, karena sang hamba tidak dihadirkan pada waktu menciptakan langit dan bumi yang proses penciptaannya berjalan selama enam hari dari hari Ahad hingga hari Jum'at, maka teori yang dikemukakan akan hanya sekedar teori saja.
Walaupun Allah lebih dari mampu untuk menciptakan langit dan bumi dalam waktu sekejap (dengan Kun-Nya), namun Allah tidak hendak berbuat demikian dengan tujuan agar manusia ciptaan-Nya itu dapat mengambil hikmah dari proses penciptaan yang berjalan hanya dalam enam hari itu. "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas arsyi" (al-Furqan: 59).
Enam hari mulai dari Ahad hingga hari Jum'at. Hari-hari ini diperuntukkan oleh Allah pada hari-hari di dunia bagi manusia. Rincian dari hari-hari itu :
- "Maka Dia meneruskan menciptakan langit yang masih berupa dukhan, lalu diperintahkannya kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu berdua memenuhi perintah-Ku dengan senang hati atau terpaksa, maka keduanya menjawab: 'Kami datang dengan rela" (Fushshilat: 11).
Dukhan ini bergelombang dan bergeraknya tumpuk tindih air yang ada di bawah arsyi karena takut kepada Allah sampai hari kiamat. Dukhan ini menimbulkan kabut, buih dan ombak dan tentunya banyak unsur- unsur yang dijadikan bahan-bahan bagi semua ciptaan-Nya yang jumlahnya tidak mungkin bisa diketahui oleh manusia kecuali hanya Allah Sendiri dengan ke-Esaan-Nya.
- Sifat kabut yang dingin dan beku dijadikan langit-langit dalam dua hari, yakni hari Kamis hingga Jum'at. "Maka Dia ciptakan tujuh langit dalam dua hari" (Fushshilat: 12).
- Buihnya dijadikan bumi dalam dua hari, yakni hari Ahad hingga Senin. "Ketahuilah! Pantaskah kamu menyangkal kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari" (Fushshilat: 9).
- Ombaknya dijadikan gunung-gunung, bukit-bukit dan berbagai makanan bagi makhluk-makhluk ciptaan-Nya. "Dan Dia menciptakan gunung (untuk mengokohkan bumi) dan diberinya keberkatan di bumi itu, serta ditentukannya makanan penghuninya dalam empat hari" (Fushshilat: 10).
Dalam ayat tersebut disebutkan empat hari, yakni dua hari dari hari Ahad sampai Senin untuk bumi sebagaimana disebutkan di ayat sebelumnya (sambungan) yang kemudian dilanjutkan pada hari Selasa sampai dengan hari Rabu untuk gunung-gunung, bukit-bukit dan makanan.
Allah berfirman: "Maka bertanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui" (al-Nahl: 43). Allah juga berfirman: "Maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia" (al-Furqan: 59). Oleh karena itu bila anda kurang yakin dengan kedataran bumi, maka silahkan bertanya kepada ahli dzikir dan orang-orang yang lebih tahu tentang Allah, ilmu-ilmu-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya. Kalau belum yakin juga, tanyakan saja langsung kepada yang menciptakan langit dan bumi ini !!
Langganan:
Postingan (Atom)
